Menanti Momentum Titik Balik Kinerja Reksa Dana Saham
JAKARTA, investortrust.id – Reksa dana saham dinilai bisa menjadi pilihan masyarakat untuk meningkatkan nilai kekayaan pada masa datang. Komitmen pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo Subianto untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 8% bisa menjadi momentum titik balik penguatan pasar modal terutama saham.
Prediksi tadi merupakan benang merah dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Investortrust, sebagai rangkaian Investment Manager Awards (IMA) 2024, Kamis (17/10/2024). Acara IMA sendiri akan digelar oleh Investortrust dan Infovesta pada tanggal 24 Oktober 2024.
Ketua Asosiasi Manager Investasi Indonesia (IMA) Hanif Mantiq memberikan gambaran, saat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6% - 7% pada tahun 2004 hingga tahun 2014, kinerja pasar saham juga naik signifikan.
‘’Karena itu kalau kita percaya bahwa pertumbuhan ekonomi ini bisa bridging ke 8%, tentu akan berdampak pada kenaikan IHSG sebagaimana era tahun 2004-2014,’’ urai Hanif Mantiq yang juga merupakan Chief Executive Officer Star AM.
Tesis yang kedua, kata Hanif, kalau ini benar ekonomi tumbuh 8% maka inflasi dan suku bunga akan rendah. Kondisi ini membuat tingkat bunga perbankan turun sehingga minat investasi ke pasar saham akan meningkat.
Potensi pertumbuhan pasar saham secara jangka panjang perlu disampaikan kepada masyarakat, setidaknya agar mereka mulai mengalokasikan dananya ke reksa dana saham.
‘’Minimal mereka membeli reksa dana saham dari hasil investasi atau keuntungan dari instrumen lain. Misalnya dapat keuntungan 180% di obligasi pemerintah, Nah, keuntungan itu untuk beli saham untuk jaga-jaga kenaikan saham dalam jangka panjang. Dan kalaupun saham turun, bukan pokok investasi yang turun, karena yang dialokasikan tadi dari keuntungan investasi di tempat lain,’’ katanya.
Pandangan senada disampaikan oleh CEO Sucor Asset Management, Jemmy Paul Wowointana. ‘’Berkaca pada historical dari negara-negara maju, selalu saham. Kalau kita bicara long term investment yang paling bagus saham,’’ katanya.
Optimisme terhadap pasar saham juga dilatari oleh kondisi underperform pasar saham 10 tahun terakhir. ‘’Secara siklus, kondisi bearish tidak akan terus berlanjut pasti akan kembali bullish,’’ imbuhnya.
Namun menurutnya, pertumbuhan pasar saham akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, termasuk harapan adanya insentif. Paling penting kata Jemmy, regulator pasar modal mempertimbangkan kembali aturan Paydi, yang selama ini membatasi investasi unit linked asuransi ke instrumen reksa dana.
‘’Untuk mengembalikan pamor reksa dana, kami harap ada diskusi serius semua pihak terkait dengan regulator, terutama untuk kembali membolehkan asuransi berinvestasi di semua jenis reksa dana,’’ ujarnya.
CIO Eastspring Investment Indonesia Liew Kong Qian juga optimistis reksa dana saham bisa memberikan return lebih tinggi dibanding reksa dana jenis lain di masa datang. Indikasinya kebijakan pemerintah mulai menunjukan keberpihakan pada pasar saham.
Meski begitu dia menilai strategi investasi yang tepat saat ini adalah fleksibel dalam alokasi aset. “Sebelum 100% masuk equity, mungkin asset class reksa dana seperti balance fund, sesuatu yang bisa dipikirkan,’’ katanya.
Adapun untuk saat ini, reksa dana pendapatan tetap masih menjadi favorit investor. Disamping risikonya yang lebih rendah, penurunan suku bunga acuan juga akan meningkatkan return reksa dana pendapatan tetap. “Sebenarnya saat ini sudah mulai ada optimistis (pasar saham), tapi investor masih conservative, tetap ada alokasi asetnya di fixed income,’’ imbuhnya.
Reksa Dana Indeks Perbankan
Di tengah penurunan aset saham terutama pada reksa dana berbasis saham-saham konstituen LQ45, sejatinya ada reksa dana berbasis saham yang justru menuai cuan besar. Hanif menyebut Reksa Dana Indeks dan Exchange Traded Fund (ETF).
Hanif mencontohkan reksa dana indeks STAR yang berbasis indeks perbankan yang mencatat pertumbuhan return fantastis dalam 10 tahun terakhir. ‘’Jadi pasar saham tidak se-gloomy yang kita pikir. Saham perbankan rata-rata tumbuh 10% per tahun selama 10 tahun terakhir, di luar tambahan deviden sebesar 2,5%,’’ ujarnya.
Kondisinya berbeda dengan sektor konsumer yang jatuh, seiring turunnya saham Unilever dan saham rokok. ‘’Intinya keuntungan di saham tetapi bisa diperoleh asal selektif memilih reksa dana indeks berdasarkan sektor yang positif, seperti perbankan,’’ katanya.
Lebh jauh Hanif menyampaikan gambaran industri reksa dana di di luar negeri di mana dana keloaan MI justru berasal dari produk reksa dan indeks dan ETF. ‘’Perlu diketahui yang membesarkan dua perusahaan investasi global, baik Vanguard Group maupun Blackrock adalah reksa dana indeks,’’ ujarnya.
Meski begitu dia mengaku reksa dana pengelolaan pasif seperti reksa dana indeks dengan reksa dana pengeloaan aktif punya keunggulan dan kekurangan masing-masing. Misalnya saat harga komoditas sedang tinggi, tentu reksa dana berbasis indeks bank tertinggal dari reksa dana pengelolaan aktif, karena bisa dengan leluasa masuk ke sektor yang sedang tinggi.
‘’Tapi ya sebaliknya lagi, kalau ada sektor yang lagi turun, indeks sektor perbankan biasanya nggak akan terkena turun juga,’’ imbuh Hanif.
Selain hasil investasi, reksa dana indeks dan ETF yang dikenal sebagai reksa dana dengan pengeloaan pasif memiliki sederet keunggulan. Pertama, dari sisi fee yang lebih rendah daripada reksadana pada umumnya. ‘’Karena dia passively managed. Jadi hanya sesuai dengan benchmarknya,’’ kata Hanif.
Kedua, pengeloaan tidak bergantung pada kecakapan fund manager (FM), karena pergerakan reksa dana indeks dan ETF hanya tetap mengacu pada indeks tertentu. Selain itu reksa dana ini menawarkan transparansi pengelolaan penuh. Berbeda dengan jenis reksa dana lain, misalnya reksa dana saham atau pendapatan tetap, hanya menampikan 10 besar portofolio yang dimilki
‘’Kalau di reksa dana indeks, itu harus di-expose semuanya, 100%. Bahkan kalau ETF, tiap beli itu di-expose seluruh pembeliannya ke publik,’’ katanya.
Pandangan senada disampaikan Kepala Divisi Investment PT PNM Investment Management, Bodi Gautama. Pihaknya juga turut menikmati perkembangan positif kinerja indeks sektor perbankanpada reksa dana indeks besutannya, PNM Indeks Infobank15.
‘’Kalau kita tarik secara grafis, itu ada semacam korelasi negatif antara yield SBN dan kenaikan indeks Infobank15, di mana di saat yield itu trendnya menurun, indeks Infobank itu naik. Jadi harapan kita ke depannya dengan turunnya suku bunga, turunnya yield SBN, maka sektor perbankan ini akan berperforma sangat baik,’’ imbuh Bodi.

