IHSG Naik 7,5 %, Lanjut Menguat atau Euforia Sesaat?
Poin Penting
|
Oleh: Hari Prabowo *)
INVESTORTRUST.ID - Bagai menemukan oase di gurun pasir, para investor saham pada Selasa (9/6/2026) kemarin mereguk "kesegaran" dan melepas rasa "dahaga" di luar kebiasaan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ngegas 7,5% setelah tertekan sejak Februari lalu. Kenaikan harga saham yang signifikan merata hampir di semua sektoral.
Sejak jam perdagangan bursa dimulai, IHSG hanya sempatdi jalur merah sekali saja di posisi 5.318,14 yang merupakan level terendah selama 5 tahun terakhir. Selebihnya, IHSG rally sampai tutup bursa di level 5.746,64.
Beberapa saham blue chips pendukung indeks mengalami kenaikan 5% sampai 10%. Nilai transaksi tembus Rp 28 triliun, sedangkan volume mencapai 45,11 miliar saham.
Kenaikan ini dipicu oleh berita pertemuan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad dengan para petinggi Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) di kompleks Parlemen, Selasa (9/6/2026). Pertemuan juga dihadiri Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi dan Kepala Badan Pengaturan BUMN/Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Selain itu, penaikan suku bunga acuan (BI-Rate) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% juga direspons positif para pelaku pasar, sehingga nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp17.988 per dolar AS pada Rabu (10/6/2026) pagi ini. Di sisi lain, harga minyak (WTI) juga turun ke level US$89,12 sehubungan dengan tensi perang yang mereda.
Akankah kenaikan IHSG ini terus berlanjut? Atau kenaikan itu hanya euforia sejenak?
Jika alasan tersebut yang memicu kenaikan IHSG, ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut lagi dalam beberapa hari ke depan. Sebab, data menunjukkan penguatan rupiah masih terbatas, Mata uang Garuda hanya menguat kurang dari Rp300 dari level Rp 18.218 yang merupakan posisi terendahnya. Investor asing juga masih mencatatkan net sell Rp2,45 triliun pada penutupan bursa Selasa (9/6/2026).
Ini menunjukkan bahwa sekalipun sudah ada informasi yang positif, investor asing masih melakukan penjualan saham dengan jumlah besar.
Hal inilah yang perlu dicermati lebih lanjut. Jangan sampai ibarat penyakit berat tapi hanya diobati dengan "anti-nyeri" saja, sehingga hanya menghilangkan rasa sakit sesaat
Keputusan melakukan pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten dan intervensi pasar oleh lembaga pengelola investasi memang berguna, tetapi tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus. Itu bukan resep yang mujarab untuk jangka panjang.
Pemerintah harus menerapkan keterbukaan dan bersedia melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang direspons negatif pasar sehingga menyebabkan rupiah dan IHSG anjlok parah.
Ada tiga program yang perlu dievaluasi dan diperbaiki tata kelolanya, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), dan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI).
Bisa saja kebijakan itu tetap dilanjutkan, namun perlu perbaikan tata kelola (governance), transparansi, dan memperhatikan efisiensi biaya agar program ini tepat sasaran.
Sejujurnya, program ekspor satu pintu melalui PT DSI bertujuansangat baik, terutama untuk mencegah under-invoicing (pelaporan transaksi di bawah nilai sesungguhnya). Hanya saja, pelaksanaannya perlu dipersiapkan secara lebih matang dan detail. Perubahan sistem ini melibatkan para eksportir dan buyers asing, sehingga perlu negosiasi yang saling menguntungkan.
Melakukan "pengobatan" yang tepat bisa mengembalikan kepercayaan pasar yang pada akhirnya dapat mendorong penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah secara berkelanjutan.
Investor saham domestik sudah lama menderita akibat anjloknya harga saham, di mana IHSG sudah turun 33,54% sejak awal tahun (year to date/ytd).
Mari kita cermati reaksi pasar pekan ini secara bijak dan hati-hati, baik pergerakan IHSG, fluktuasi rupiah, maupun perilaku investor asing sebagai dasar pertimbangan untuk mengambil keputusan investasi lebih lanjut. ***
*) Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa dan pengamat pasar modal.

