Usai Libur Lebaran, Rupiah Loyo Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (25/3/2026), hari pertama perdagangan setelah libur Nyepi dan Lebaran 2026. Rupiah melemah 0,07% atau 11 poin di posisi Rp 16.908 per US$ pada pantauan di data Bloomberg pukul 09.18 WIB.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan pelemahan rupiah terjadi seiring pasar yang memantau data ekonomi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 1,79 bps ke 4,36% dan Indeks Dolar AS (DXY) naik ke 99,4 seiring pelaku pasar terus mencermati konflik dengan Iran dan menilai peluang deeskalasi.
Laporan menunjukkan adanya komunikasi dan upaya diplomatik yang berlanjut untuk mengakhiri perang, namun pertempuran masih berlangsung meskipun Presiden AS, Donald Trump mengumumkan jeda lima hari.
Sementara itu, Iran terus melanjutkan serangan terhadap pangkalan AS di kawasan Teluk Persia dan menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dengan AS yang sedang berlangsung.
Baca Juga
Di sisi lainnya, harga minyak masih meningkat, meskipun dengan laju yang lebih lambat, sehingga tetap menekan inflasi. Akibatnya, pelaku pasar kini tidak lagi mengharapkan adanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) di kisaran target 3,5%–3,75% untuk pertemuan kedua berturut-turut pada Maret 2026, sesuai ekspektasi. Pembuat kebijakan mencatat bahwa aktivitas ekonomi masih tumbuh solid, pertumbuhan lapangan kerja relatif rendah, sementara inflasi tetap agak tinggi.
Dampak perang dengan Iran masih belum pasti. Dalam kondisi ini, pembuat kebijakan the Fed tetap memperkirakan satu kali penurunan suku bunga tahun ini dan satu lagi pada 2027, sama seperti proyeksi bulan Desember.
Andry juga melihat posisi Trump yang menyatakan bahwa Iran telah memberikan isyarat niat baik dalam negosiasi terkait aliran energi melalui Selat Hormuz, sementara New York Times melaporkan bahwa AS telah mengirimkan proposal 15 poin kepada Iran untuk menyelesaikan konflik.
Baca Juga
Kondisi ini meningkatkan sentimen pasar meskipun Trump juga memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 pasukan ke kawasan tersebut, seiring pemerintah mempertimbangkan opsi untuk mengurangi pengaruh Iran atas jalur strategis tersebut.
Indeks PMI Manufaktur AS versi S&P Global naik ke 52,4 pada Maret 2026, dari 51,6 pada Februari 2026 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,3.
Pertumbuhan produksi meningkat, sementara pesanan baru mencatat kenaikan terkuat sejak Oktober 2025, didukung oleh stabilisasi permintaan ekspor setelah delapan bulan mengalami penurunan. Perusahaan melaporkan tekanan tarif yang mulai mereda serta peningkatan persediaan akibat kekhawatiran gangguan berkepanjangan dari konflik di Timur Tengah dan potensi lonjakan harga.

