BSI Perkuat Remitansi PMI di Malaysia, Transaksi Tembus Rp 116 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) terus memperkuat layanan internasional melalui pengembangan bisnis remitansi bagi pekerja migran Indonesia (PMI). Upaya ini dilakukan dengan menggandeng KJRI Johor Bahru dan KBRI Kuala Lumpur dalam program edukasi literasi keuangan syariah di Malaysia.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengungkapkan, ekspansi jaringan dilakukan sebagai respon atas meningkatnya kebutuhan layanan perbankan syariah di kalangan PMI.
“Malaysia menjadi salah satu kantong transaksi terbesar. Di sanalah BSI masuk lebih dalam dengan layanan yang mudah diakses dari berbagai negara,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (20/2/2026).
Hingga Desember 2025, transaksi remitansi BSI mencapai 1,8 juta transaksi atau tumbuh 9% secara year on year (yoy). Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 116 triliun.
Baca Juga
Kinerja Solid, Saham BSI (BRIS) Direkomendasi Beli dengan Potensi Cuan Ini
Pertumbuhan ini ditopang jaringan remitansi BSI yang telah menjangkau 14 negara dengan lebih dari 30 mitra global. Saat ini layanan BSI Remitansi tersedia di Malaysia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Australia, Uni Emirat Arab (UEA), Brunei Darussalam, Korea Selatan, Selandia Baru, dan lainnya.
Pada awal 2026, BSI bersama perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia menggelar program literasi keuangan bagi PMI. Program tersebut mencakup edukasi pengelolaan keuangan, investasi tabungan emas, hingga pemanfaatan layanan pengiriman uang lintas negara melalui superapps BYOND by BSI.
Baca Juga
Laba BSI (BRIS) Sesuai Harapan, Bagaimana dengan Target Harga Sahamnya?
Dalam pengembangan bisnis remitansi, BSI menerapkan dua strategi. Pertama, business to business (B2B) untuk mendorong volume transaksi melalui kerja sama dengan mitra strategis. Kedua, business to customer (B2C) guna mempercepat aktivasi layanan digital bagi nasabah migran.
“Kami ingin PMI bukan hanya mengirim uang, tapi membangun masa depan keuangan yang lebih kuat dan aman,” kata Anton.

