Flexing Finfluencer Jadi Ancaman Literasi Investasi Kripto Bagi Kalangan Gen Z
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Fenomena pamer kekayaan atau flexing di media sosial kini seolah menjadi wajah baru dalam promosi investasi, dan yang paling gencar terjadi khususnya di sektor kripto.
Financial Planner sekaligus CMO Bitwewe Indonesia Aidil Akbar mengungkapkan bahwa tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan hasil dari "racikan maut" antara emosi manusia terhadap uang, tekanan teman sebaya (peer pressure), dan kebebasan media sosial tanpa filter.
Aidil menjelaskan bahwa pada dasarnya uang sangat berkaitan erat dengan emosi manusia. Di era sekarang, Generasi Z menghadapi beban ekspektasi yang jauh lebih berat untuk meraih kesuksesan finansial di usia sedini mungkin. Hasrat untuk "kaya mendadak" sebenarnya sudah ada sejak generasi terdahulu, namun tekanan lingkungan saat ini membuat keinginan tersebut menjadi jauh lebih intens bagi anak muda.
"Ya, sebenarnya gini, kalau kita bicara uang, ya kita nggak ngomong kripto dulu spesifik, tapi uang dulu ya. Uang itu kan kita ngomongin emosi ya, gitu. Nah, kemudian generasi yang sekarang nih Gen Z gitu ya, mungkin karena peer pressure gitu ya, membuat terus kemudian harus bisa sukses secepat mungkin di usia dini itu membuat pressure mereka semakin besar," ujar Aidil dalam podcast bersama investortrust.id, di Kantor Investortrust, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga
OJK Genjot Aturan 'Finfluencer' Kripto, Rampung Semester I 2026
Lebih lanjut, Aidil menyebut, perbedaan mendasar antara pakar keuangan zaman dulu dengan pembuat konten keuangan (financial influencer/fininfluencer) masa kini terletak pada proses validasi media. Aidil mengenang saat dirinya memulai karier di awal tahun 2000-an, di mana untuk masuk ke media arus utama seperti TV atau surat kabar, seseorang harus melalui kurasi ketat.
Kapabilitas, rekam jejak, dan kompetensi seseorang diuji secara mendalam sebelum diberikan panggung untuk berbicara di depan publik. Namun, kehadiran media sosial telah meruntuhkan sistem sensor tersebut.
"Dicek dulu ya kan background-nya, CV-nya nih orang siapa, dia capable tidak untuk ngomong, dia punya kompetensi nggak untuk bicara dan sebagainya. Nah, itu membuat orang-orang zaman dulu seperti saya itu udah terujilah gitu ya dari sisi kapasitas, kapabilitas ya kemudian barulah bisa muncul di media," jelas Aidil.
Namun saat ini, kata Aidil, setiap individu bisa dengan mudahnya memiliki platform sendiri tanpa adanya pihak ketiga yang memvalidasi kebenaran latar belakang mereka. Kondisi ini memungkinkan siapa saja untuk membangun narasi kesuksesan instan atau "Cinderella story" guna menarik perhatian massa tanpa harus membuktikan kapasitas intelektual atau profesionalisme mereka terlebih dahulu. Flexing kemudian menjadi alat pemasaran yang paling efektif untuk memicu emosi pengikut.
Di sisi lain, Aidil menyoroti pergeseran standar kemewahan yang digunakan untuk pamer. Jika dahulu mobil mewah seperti Mercedes-Benz sudah dianggap sebagai puncak kesuksesan seseorang, kini para finfluencer harus menampilkan supercar sekelas Lamborghini atau Ferrari untuk mengesankan audiens mereka.
Baca Juga
Finfluencer dan Dramaturgi Kekayaan: Gen Z Harus Lebih Waspada
Menurut Aidil, dampak dari konten pamer kemewahan ini sangat nyata terhadap pola pikir Gen Z. Banyak dari mereka yang terdorong untuk mengikuti jejak sang idola tanpa melakukan riset mendalam mengenai risiko investasi. Hal ini memicu gelombang investasi ikut-ikutan yang berbahaya, di mana para pengikut hanya terobsesi pada hasil akhir berupa kekayaan tanpa memahami proses dan strategi di baliknya.
"Nah, jadi dua pengaruh ini, eh tiga, satu emosional uang, peer pressure membuat orang anak muda zaman sekarang Gen Z pengen harus cepat sukses dan kaya cepat ya kan, kemudian dibantu juga dengan apa namanya medianya membuat jadilah ini racikan maut untuk generasi zaman sekarang gitu," ucap Aidil.
Aidil meyakini bahwa tingkat kerentanan generasi muda terhadap penipuan berkedok investasi sangat tinggi akibat konten flexing ini. Ia memperkirakan lebih dari 70% korban penipuan investasi berasal dari kalangan generasi muda, sementara generasi X atau milenial cenderung lebih skeptis dan realistis. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya bagi Gen Z untuk mulai berpikir kritis dan mempertanyakan keabsahan kesuksesan yang ditampilkan seseorang di media sosial.
"Makanya kenapa penting banget atau penting sekali untuk generasi sekarang tuh belajar ya berpikir, bener nggak sih orang ini sukses seperti apa yang dia katakan di media sosialnya dia gitu," pungkas Aidil.

