Finfluencer dan Dramaturgi Kekayaan: Gen Z Harus Lebih Waspada
Poin Penting
| ● | Finfluencer kerap memamerkan gaya hidup mewah dan keuntungan investasi, terutama di aset kripto, namun sering kali menampilkan realitas yang dikurasi atau palsu. |
| ● | Berdasarkan teori dramaturgi Erving Goffman, finfluencer menampilkan “front stage” sukses dan kaya, sementara realitas “back stage” disembunyikan. |
| ● | OJK menerbitkan POJK Nomor 13 Tahun 2025 yang mewajibkan finfluencer bekerja sama dengan perusahaan efek memiliki izin resmi. |
Oleh: Lona Olavia
Jurnalis dan mahasiswa Magister by Project Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran
Dunia keuangan saat ini tak bisa terlepas dari sosial media, termasuk dalam kaitannya dengan financial influencer (finfluencer). Finfluencer adalah individu yang memiliki pengikut setia di media sosial dan dianggap memiliki pengetahuan atau keahlian di bidang keuangan
Fenomena financial influencer atau finfluencer menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital generasi Z alias Gen Z. Seorang finfluencer membangun kredibilitas dalam industri atau ceruk tertentu dan menggunakan media sosial untuk mempromosikan sesuatu. Mereka menggunakan berbagai saluran digital, seperti YouTube, Instagram atau TikTok.
Dengan gaya penyampaian yang santai dan kadang berapi-api, para finfluencer mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap keuangan lewat panduan investasi, tips menabung, hingga motivasi finansial dalam format yang ringan tapi menarik. Kehadiran mereka memberikan warna baru pada edukasi keuangan yang sebelumnya dianggap kaku dan membosankan, terutama oleh generasi muda.
Namun, muncul juga finfluencer yang memamerkan saldo rekening miliaran atau flexing liburan mewah hasil dari ‘cuan’ investasinya. Narasi tentang kekayaan instan seperti ini memang memikat, tetapi bagi banyak orang yang masih berjuang mengatur keuangan sehari-hari, tontonan semacam itu justru bisa menimbulkan rasa miris alih-alih memotivasi. Apakah semudah itu ‘menjual mimpi’ di era digital ini?.
Ini perlu menjadi perhatian khususnya bagi generasi Gen Z yang amat dekat dengan sosial media. Investasinya yang lagi booming di kalangan Gen Z adalah aset kripto. Kripto seringkali diidentikkan dengan kemunculan orang-orang yang mendapat kekayaan dengan waktu yang cepat. Kekayaan tersebut berasal dari satu sumber yang digadang-gadang menjadi teknologi masa depan, tak lain adalah kripto.
Dalam perbincangan podcast dengan penulis, Oktober lalu, pegiat kripto Timothy Ronaldmerasa resah atas makin maraknya finfluencer Indonesia yang mempromosikan pedagang aset kripto atau exchange ilegal. Tak tanggung-tanggung, promosi itu dilakukan secara terang-terangan di sosial media dan di tahun 2025 ini makin menjamur.
Bahkan untuk meyakinkan "calon korbannya", yang mencengangkan finfluencer tersebut sekaligus menampilkan gaya hidup mewah, seperti punya mobil sport atau memamerkan keuntungan fantastis yang dimanipulasi, padahal sebagian besar konten tersebut tidak mencerminkan realitas.
Atas keresahan tersebut tak heran ada desakan bahwa kegiatan yang menimbulkan kerugian tersebut perlu ditindak tegas dan diberikan efek jera. Dengan harapan, finfluenceryang lain diharapkan bisa berhenti melakukan tindakan tersebut.
Baca Juga
OJK Siapkan Regulasi Finfluencer, Perkuat Pelindungan Pasar Keuangan
Terjadinya Dramaturgi
Fenomena itu tertuang dalam analisis teori Dramaturgi Erving Goffman. Dalam hal ini, finfluencer menampilkan front stage berupa citra sukses dan kaya, sementara realitas “back stage” sengaja disembunyikan. Mereka membangun persona yang tidak autentik demi mendapatkan perhatian, validasi, dan keuntungan finansial.
Dalam kasus tersebut teori Dramaturgi menjelaskan bahwa finfluencer menampilkan persona palsu untuk menyesuaikan dengan ekspektasi audiens. Lalu mereka membangun realitas semu yang sepenuhnya dikurasi. Sayangnya audiens sering kali hanya melihat panggung depan sehingga mudah terpengaruh dan praktik ini menimbulkan risiko misinformasi, penipuan, hingga kerugian finansial bagi pengikutnya.
Padahal Gen Z sebagai konsumen harus selalu melakukan cek dan ricek terlebih dahulu apa yang finfluencer bicarakan. Tidak langsung percaya begitu saja. Misalnya, mencari informasi dari sumber lain yang terpercaya atau berdiskusi dengan orang yang sudah berpengalaman di dunia finansial.
Tak bisa dipungkiri Gen Z lebih tertarik pada konten finansial dari finfluencer dibandingkan sumber edukasi keuangan tradisional karena mereka memiliki kebiasaan mencari informasi lewat media sosial. Alasan lainnya, Gen Z cenderung mencari referensi dari orang yang seusia, bukan dari orang yang lebih tua.
Padahal ada risiko terkait pengelolaan keuangan Gen Z yang cenderung menginginkan hal yang mudah dan cepat. Di sisi lain, para influencer seringkali mempromosikan produk investasi tanpa memikirkan apakah produk itu aman atau justru berbahaya. Banyak juga yang hanya mengejar uang, tanpa peduli pada dampak jangka panjang. Dampaknya Gen Z bakal terjebak secara finansial di masa depan.
Untungnya, keresahan ini telah sampai ke telinga regulator. Fenomena 'pom-pom' saham dan aset kripto yang sering kali tidak diimbangi dengan edukasi memadai membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya turun tangan. Kini, OJK menyiapkan aturan main baru yang lebih ketat bagi para finfluencer.
Untuk menjawab keresahan publik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pengendalian Internal dan Perilaku Perusahaan Efek. Aturan yang diundangkan pada 11 Juni 2025 dan akan berlaku efektif mulai 11 Desember 2025 ini hadir sebagai respons atas dinamika pasar modal yang semakin kompleks.
Salah satu terobosan utama adalah kewajiban bagi pegiat media sosial atau influencer yang bekerja sama dengan perusahaan efek untuk tujuan promosi. Kini, mereka wajib memiliki izin khusus. Regulasi ini diharapkan dapat menekan praktik 'pom-pom' saham atau aset kripto yang tidak bertanggung jawab.
Baca Juga
Ciri Finfluencer Edukatif vs Komersial
Agar lebih mudah membedakan finfluencer edukatif dan finfluencer komersial, OJK memberikan beberapa panduan sederhana. Dari sisi transparansi, finfluencer edukatif biasanya jujur soal kerja sama sponsor, afiliasi, atau produk yang mereka promosikan, sementara finfluencer komersial cenderung menutupi sumber pendapatan dan memanfaatkan kepercayaan audiens.
Gaya penyampaiannya pun berbeda, finfluencer edukatif mengutamakan penjelasan rasional, bukan janji bombastis, sedangkan finfluencer komersial sering menjanjikan “cuan tinggi tanpa risiko” atau “rahasia sukses finansial dalam seminggu.”
Konten promosi juga bisa menjadi indikator. Jika mereka sering menyelipkan tautan afiliasi, referral code atau ajakan membeli kursus berbayar tanpa menjelaskan risikonya, besar kemungkinan konten tersebut lebih berorientasi jualan. Pada akhirnya, finfluencer edukatif bertujuan membuat audiens memahami konsep terlebih dahulu sebelum bertindak, sedangkan finfluencer komersial mendorong audiens bertindak dulu baru memahami.
Sebelum mengikuti saran siapa pun, penting untuk memeriksa kredibilitasnya. Pastikan mereka memiliki latar pendidikan, pengalaman, atau sertifikasi yang relevan, serta konten yang konsisten dengan prinsip keuangan yang dapat diverifikasi. Cek juga apakah mereka bekerja sama dengan lembaga resmi atau memiliki izin terkait perencanaan keuangan.
Saat menilai konten, lakukan secara objektif, apakah penjelasannya logis dan dapat diterapkan di dunia nyata, apakah relevan dengan kondisi keuangan dan apakah risiko dijelaskan secara seimbang, bukan hanya keuntungannya. Ingat, setiap orang memiliki situasi dan toleransi risiko yang berbeda, sehingga apa yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita.

