Bagikan

OJK: Ekonomi Global Melandai, Stabilitas Sektor Keuangan Indonesia Masih Terjaga

Poin Penting

OJK menilai kondisi sektor jasa keuangan Indonesia masih stabil, seiring perbaikan ekonomi global.
The Fed dan Bank of England memangkas suku bunga, sementara Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade.
Di tengah ketidakpastian global dan isu geopolitik, Indonesia mencatat inflasi inti yang meningkat.

JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga. Berdasarkan rilis data perekonomian global, maka secara umum menunjukkan perbaikan meski kinerja ekonomi Tiongkok berada di bawah ekspektasi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan, aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi dengan laju yang termoderasi.

"Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan berlanjut melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi seiring dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama," ujar Mahendra dalam acara Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025 yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Mahendra menjelaskan, di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan PDB untuk kuartal III di 2025 tumbuh 4,3%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar.

Baca Juga

Cek! OJK Terbitkan Aturan Baru Digitalisasi BPR dan BPR Syariah

"Di sisi lain, pasar tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan tanda moderasi serta inflasi untuk November 2025 turun ke 2,7% dan inflasi inti turun ke 2,6%," ungkap Mahendra.

Sementara itu di Tiongkok, perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga masih tertahan. Dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi dan tekanan di sektor properti masih terus berlangsung.

"Perkembangan-perkembangan ini mendorong sejumlah bank sentral kembali menempuh kebijakan akomodatifnya," kata Mahendra.

Lebih lanjut, Mahendra menyebut, Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat, memangkas Federal Fund Rate atau FFR, dan Bank of England, bank sentral di Inggris, di Desember 2025 juga kembali memangkas suku bunga acuan. Namun, Bank Sentral Jepang, Bank of Japan, menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasar warsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang.

"Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral itu turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global," ucap Mahendra.

Baca Juga

OJK Dorong Perluasan Kepesertaan Dana Pensiun untuk Pekerja Informal

Mahendra membeberkan bahwa pasar saham global secara umum bergerak menguat merespon pemangkasan FFR meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar sovereign bond global seiring dengan praktik berakhirnya aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.

"Lebih lanjut, tentu kita cermati dan saksikan sendiri di awal tahun 2026 pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global," jelas Mahendra.

Mahendra menambahkan, di tengah dinamika global itu, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat. Sektor manufaktur terpantau masih ekspansif dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024