Bagikan

Rupiah Tergelincir ke Rp 16.768 per US$, Permintaan Aset Aman Meningkat

Poin Penting

Rupiah terdepresiasi 28 poin atau 0,17% ke level Rp16.768 per dolar AS, meski indeks dolar (DXY) justru melemah tipis ke kisaran 98,22 seiring meredanya kekhawatiran global.
Pelemahan DXY mendorong penguatan sejumlah mata uang Asia dan global seperti dolar Singapura, baht Thailand, ringgit Malaysia, yuan China, euro, dan poundsterling.
Dari eksternal, data ISM Manufacturing PMI AS turun ke 47,9—terendah sejak Oktober 2024menandakan kontraksi manufaktur.

JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (6/1/2026). Rupiah melemah 28 poin atau turun 0,17% di posisi Rp 16.768 per US$.

Meski melemah 0,05% indeks dolar AS atau DXY masih bergerak di kisaran 98,22.

Melemahnya DXY direspons sejumlah penguatan mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia. Dolar Singapura menguat 0,16%, baht Thailand menguat 0,33%, dan ringgit Malaysia menguat 0,42%. Yuan China juga menguat 0,07%.

Baca Juga

Rupiah Ditutup Melemah, Tekanan AS ke Venezuela Mengerek Dolar AS

Penguatan juga terlihat pada euro Uni Eropa yang menguat 0,11% dan poundsterling Britania Raya yang menguat 0,07%.

Kondisi yang berbeda dihadapi rupee India, yen Jepang, dan peso Filipina. Rupee melemah 0,1%, yen melemah 0,01%, dan peso Filipina melemah 0,03%.

Baca Juga

Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan di Tengah Krisis Venezuela

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat DXY mereda seiring turunnya kekhawatiran terkait situasi di Venezuela dan data Institute for Supply Management (ISM) Manufacturing PMI yang lebih lemah dari perkiraan.

ISM Manufacturing PMI AS mengalami penurunan tiga bulan berturut-turut menjadi 47,9 pada Desember 2025. Angka ini terendah sejak Oktober 2024. Data ini menunjukkan aktivitas manufaktur AS yang mengalami kontraksi lebih cepat dipicu oleh penurunan produksi dan ketersediaan.

Sementara itu, pasar saham AS menguat dipimpin oleh sektor saham di sektor energi dan keuangan. Ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk berinvestasi pengilangan minyak di Venezuela.

Merespons kebijakan itu saham Chevron melonjak 5,1% dan Goldman Sachs naik 3,7%. Kenaikan juga diikuti Tesla yang naik 3,1% dan Amazon, yang naik, 2,9%.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia yang naik menjadi 2,92% pada Desember 2025. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April 2024, namun masih berada pada kisaran target Bank Indonesia yang sebesar 1,5-3,5%.

Surplus neraca perdagangan Indonesia juga menyempit menjadi US$ 2,66 miliar pada November 2025. Angka ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 4,34 miliar.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024