OJK: Industri Dapen Hadapi Tantangan Investasi di Tengah Dinamika Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penempatan investasi industri dana pensiun (dapen) pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami penurunan sepanjang 2025.
Berdasarkan data per Oktober 2025, nilai penempatan dapen pada SRBI sebesar Rp 4,09 triliun atau sekitar 1,06% dari total investasi, menurun dibandingkan posisi akhir 2024 seiring berkurangnya penerbitan SRBI sepanjang tahun berjalan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono menilai, SRBI masih berpotensi menjadi pilihan instrumen investasi jangka pendek dengan risiko rendah dan imbal hasil yang kompetitif.
“Namun alokasi investasi dana pensiun tetap perlu disesuaikan dengan profil liabilitas (liability driven investment),” ujarnya, dalam jawaban tertulis, belum lama ini.
Baca Juga
Rasio Pendapatan Pensiun Indonesia Masih Rendah, OJK Dorong Penguatan Sistem Dapen
Ke depan, lanjut Ogi, industri dapen diperkirakan masih memiliki prospek yang positif bahkan berpotensi tumbuh hingga double digit, baik dari program pensiun wajib maupun sukarela.
Meski begitu, pengelolaan portofolio investasi industri dapen di 2026 akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Misalnya, penurunan BI Rate akan berdampak pada potensi penurunan tingkat imbal hasil investasi yang akan diperoleh dapen.
“Strategi alokasi aset yang optimal juga menjadi tantangan bagi dapen di tengah pergerakan pasar keuangan yang sangat dinamis,” kata Ogi.
Selain itu, pertumbuhan jumlah peserta juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) yang dituntut melahirkan inovasi produk sehingga adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan pengembangan digitalisasi dalam rangka efektivitas pengelolaan dapen.
Baca Juga
OJK Pastikan Investasi Asuransi dan Dapen Dikelola Optimal dengan Tata Kelola Ketat
OJK mencatat, per Oktober 2025 nilai investasi dapen pada instrumen saham mencapai Rp 24,66 triliun atau sekitar 6,37% dari total investasi. Membaiknya kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap instrumen saham di Indonesia, termasuk bagi asuransi dan dapen.
“Namun demikian, pengelolaan portofolio investasi pada asuransi dan dapen tetap harus mengacu pada ketentuan yang berlaku, dilaksanakan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian serta memperhatikan profil risiko dan profil liabilitas pada masing-masing produk/program yang dijalankan,” ucap Ogi.
Dari sisi kinerja, tren imbal hasil investasi atau return on investment (ROI) tahunan dapen menunjukkan perbaikan. Hingga Oktober 2025, ROI dapen tercatat 7,03% atau meningkat 1,45% secara year on year (yoy).
Ke depan, kata Ogi, OJK mendorong dapen untuk terus mengoptimalkan strategi alokasi aset. Selain itu, khusus bagi DPLK, OJK meminta peningkatan edukasi kepada peserta agar pemilihan investasi selaras dengan profil risiko dan liabilitas masing-masing peserta.
“Sehingga, kinerja investasi dapat lebih optimal dan berkelanjutan,” katanya.

