Kredit Investasi Tumbuh Tinggi, Tembus 15,72%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas berada di level yang memadai. Kredit investasi tumbuh tinggi, menembus 15,72% year-on-year (yoy).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengungkapkan, kredit tumbuh sebesar 7,36% yoy pada Oktober 2025 menjadi Rp 8.220,2 triliun, dibanding September lalu yang pertumbuhannya 7,70%.
"Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 15,72%, diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh 7,03%, sementara kredit modal kerja tumbuh 2,39% year-on-year,” ujar Dian dalam acara Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan November 2025 yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Sedangkan berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,02%. Adapun kredit UMKM terkontraksi tipis 0,11%.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2025 tercatat tumbuh sebesar 11,48% yoy menjadi Rp 9.756 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang tumbuh sebesar 11,18%.
Lebih lanjut, Dian menyebut, likuiditas industri perbankan pada Oktober 2025 tetap memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 130,97% dan 29,47%.
Baca Juga
“Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 210,43%,” ungkap Dian.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,25% dan NPL net sebesar 0,90%. Kemudian, untuk loan at risk (LAR) sebesar 9,41%.
Dian menambahkan, ketahanan perbankan Indonesia pada Oktober 2025 tetap kuat. Menurutnya, hal itu tercermin dari permodalan (CAR) perbankan yang tinggi di level 26,38%.
“Ketahanan perbankan juga tetap kuat tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio yang berada di level tinggi sebesar 26,38% dibandingkan dengan September tahun lalu adalah sebesar 26,15% menjadi bantaran mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” jelas Dian.

