OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Stabil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa perekonomian global relatif stabil. Hal itu ditandai dengan aktivitas manufaktur global yang berada di zona ekspansi, terutama di negara-negara maju meskipun kinerja perdagangan dunia cenderung mendatar.
Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam acara Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan November 2025 yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Mahendra menjelaskan, di Amerika Serikat, kondisi ekonomi terlihat beragam setelah penutupan pemerintahan selama 43 hari atau shutdown. Menurut Mahendra, pasar tenaga kerja terpantau termoderasi.
"Lebih lanjut, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, namun tetap memberikan sinyal hawkis di tengah tekanan fiskal dan meningkatnya yield jangka panjang," ungkap Mahendra.
Baca Juga
OJK Keluarkan Kebijakan Perlakuan Khusus Kredit untuk Korban Bencana di Sumatra
Sementara itu, di Tiongkok beberapa indikator utama di sisi permintaan tercatat di bawah ekspektasi pasar. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok triwulan III terpantau melambat, dengan konsumsi rumah tangga masih tertahan. Menurutnya, hal itu mengindikasikan masih lemahnya konsumsi domestik.
"Penjualan ritel dan aktivitas di sektor properti juga mencatatkan perlambatan," kata Mahendra.
Di domestik, perekonomian Indonesia terpantau solid dengan kondisi ekonomi triwulan III tumbuh 5,04% year-on-year (yoy) dan indeks PMI manufaktur tetap berada di zona ekspansi. Berdasarkan hal tersebut, perlu dicermati perkembangan permintaan domestik yang masih memerlukan dukungan lebih lanjut seiring dengan moderasi inflasi inti, tingkat kepercayaan konsumen, serta tingkat penjualan ritel, semen, dan kendaraan.
Sepanjang tahun 2025, sektor jasa keuangan secara umum menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai dinamika global dan domestik. Di pasar modal, meskipun sempat mengalami tekanan pada akhir triwulan I akibat sentimen negatif perdagangan global, IHSG pulih dan kembali berada pada trend positif, ditopang oleh respon kebijakan yang adaptif dari OJK dan Bursa Efek Indonesia melalui kebijakan buyback tanpa RUPS, penyesuaian batasan trading call, serta penerapan asymmetric auto-rejection.
Setelah penilaian volatilitas tersebut, IHSG menunjukkan resiliensi yang tinggi, bahkan mencatat beberapa kali rekor tertinggi sepanjang tahun 2024," jelas Mahendra.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit perbankan dan perusahaan pembiayaan mengalami moderasi dibandingkan tahun lalu, terutama pada sektor-sektor yang terdampak perlambatan kinerja sektoril. Premi asuransi, khususnya asuransi jiwa, tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, ketahanan industri jasa keuangan dinilai tetap kuat, ditopang oleh permodalan yang solid, kecukupan pencadangan, serta profil risiko yang terkendali. Kondisi ini menjadi modalitas untuk ruang ekspansi kinerja sektor jasa keuangan yang lebih luas ke depan.
"Yang didukung dengan implementasi kebijakan pendalaman pasar keuangan, perluasan akses pembiayaan, serta penguatan integritas dan tata kelola di seluruh sektor jasa keuangan," pungkas Mahendra.
Baca Juga
Perkuat Anti-Fraud, OJK Dorong Generasi Muda Tolak Perilaku Koruptif
Mahendra menambahkan, OJK senantiasa mengarahkan sektor jasa keuangan untuk turut berkontribusi optimal terhadap program prioritas pemerintah dengan memastikan penerapan prinsip manajemen risiko dan tata kelola yang baik. Dengan melihat kondisi perekonomian itu dan dalam rangka mendorong pertumbuhan yang lebih optimal, OJK telah melakukan berbagai langkah deregulasi di sektor pegadaian dan lebaga keuangan mikro dengan memberikan kemudahan berusaha bagi pelaku industri.
"Selain itu, upaya pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat, khususnya melalui peningkatan peran perusahaan asuransi sebagai investor institutional dengan memperluas batasan investasi perusahaan asuransi pada instrumen keuangan tertentu," pungkas Mahendra.

