Survei Segara Research Institute Ungkap Mayoritas Masyarakat Lebih Pilih Pinjaman ke Keluarga dan Pindar Saat Defisit Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Segara Research Institute melalui Survei Potret Sumber Pembiayaan dan Perilaku Peminjam di Indonesia pada Juni-Juli 2025 melaporkan bahwa terdapat ketergantungan responden yang tinggi pada sumber pembiayaan (tempat meminjam) kepada keluarga, pinjaman daring (pindar) dan teman pada saat mengalami defisit keuangan.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengungkapkan, meminjam ke keluarga menjadi pilihan yang paling banyak digunakan oleh responden, yakni sebesar 39,05%, diikuti oleh pindar dengan 29,37% dan pinjam ke teman sebesar 19,74%.
"Peran dari keluarga itu ternyata cukup dominan. Mereka sangat mengutamakan atau bersandar kepada keluarga ketika mereka mengalami mismatch," ujar Piter dalam acara Media Gathering Segara Research Institute Peluncuran Hasil Survei Potret Sumber Pembiayaan dan Perilaku Peminjam di Indonesia di Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Baca Juga
BSI Proyeksi Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh 11,9% Jadi Rp 794 Triliun di 2026
Piter menjelaskan, pindar menjadi sumber pinjaman namor satu di provinsi dengan pusat ekanomi besar seperti Jawa Timur 50,67%, Banten 51,93%, dan DKI Jakarta 35,86%. Kemudian, di wilayah survei Jawa Tengah 45,41%, DIY 50,57%, dan Sulawesi Selatan 57,78%, responden lebih mengandalkan pinjaman dari keluarga.
Lebih lanjut, Piter menyebut, lembaga keuangan formal seperti bank secara konsisten di semua wilayah survey menjadi pilihan yang kurang populer, yakni sebesar 8,45%.
Di sisi lain, Piter membeberkan bahwa tabulasi silang antara persepsi responden terhadap bunga dengan besarnya bunga rill yang dibayarkan mengindikasikan bahwa persepsi atas bunga tidak sepenuhnya didasarkan kepada besarnya bunga yang dibayarkan oleh responden. Menurutnya, bunga rill yang dibayarkan oleh responden terkonsentrasi pada range 0 - 4 % per bulan.
Baca Juga
Serap 100% Dana Pemerintah Rp 1 Triliun, Bank Jakarta Siap Salurkan Pembiayaan Lebih Besar
Sementara itu, responden tersebar secara cukup merata mulai dari persepsi bunga cukup rendah dan tidak membebani, bunga tinggi membebani, hingga bunga sangat tinggi sangat membebeni.
"Hal Ini berarti persepsi responden atas bunga tidak didasarkan kepada bunga rill yang mereka bayarkan," jelas Piter.
Asal tahu saja, riset ini dilakukan selama dua bulan, yakni Juni-Juli 2025 dengan 2.116 responden di 20 kabupaten atau kota pada tujuh provinsi. Tujuannya adalah untuk memetakkan sumber pembiayaan termasuk pindar dan menilai bagaimana faktor suku bunga maupun non-suku bunga mempengaruhi perilaku peminjam.

