BSI Proyeksi Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh 11,9% Jadi Rp 794 Triliun di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tim Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) optimistis prospek bisnis perbankan syariah nasional masih cerah ke depannya, di mana pembiayaan diperkirakan tumbuh 11,9% secara year on year (yoy) menjadi Rp 794 triliun di 2026.
Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo mengungkapkan, prospek tersebut didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang juga diperkirakan akan cerah seiring dengan konsumsi rumah tangga yang solid, program prioritas pemerintah, dan menguatnya peran ekonomi serta keuangan syariah.
“Ekonomi dan keuangan syariah diyakini menjadi bagian integral dari dorongan pertumbuhan nasional. Meskipun kedalaman pasar keuangan masih terbatas, keuangan syariah Indonesia justru menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat,” ujarnya, dalam acara BSI Sharia Economic Outlook 2026 bertema ‘Indonesia 2026: Resilient, Bold, and promising’, di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Baca Juga
BSI Dorong Pemulihan Layanan di Aceh, 72% Kantor Cabang Kembali Beroperasi
Selain itu, Banjaran mengatakan, total aset keuangan syariah diperkirakan naik dari Rp 3.158 triliun pada 2025 menjadi Rp 3.508 triliun di 2026, dengan pertumbuhan sekitar 14,8%. Aset perbankan syariah juga diproyeksikan tembus Rp 1.205 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 952,9 triliun dengan pertumbuhan 12,55%.
“Keuangan syariah tidak lagi sekadar pelengkap, tapi telah menjadi salah satu pilar pertumbuhan sektor keuangan nasional. Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK perbankan syariah yang konsisten dua digit menunjukkan kepercayaan dan preferensi masyarakat yang terus menguat,” katanya.
Baca Juga
Di hilir, Banjaran melihat industri halal menjadi penguat penting bagi kinerja perdagangan dan konsumsi. Konsumsi produk halal domestik diperkirakan mencapai US$ 259,8 miliar pada 2026, tumbuh sekitar 5,88%, dan menyumbang lebih dari 30% konsumsi rumah tangga nasional.
Dari sisi ekspor, produk halal berkontribusi 20% dari total ekspor barang non-migas Indonesia, diproyeksikan naik menjadi US$ 73,9 miliar dengan pertumbuhan sekitar 8,73%, termasuk ekspor non sawit yang terus meningkat.
“Tantangan tetap, risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih terbatas, dan kebutuhan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan pemanfaatan penuh potensi ekonomi syariah, Indonesia tak hanya bisa bertahan, tapi juga melompat ke level pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ucap Banjaran.

