CIMB Niaga Rayakan 70 Tahun: Dari Bank Nasional ke Pemimpin Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk merayakan 70 tahun kiprahnya di Indonesia dengan menegaskan posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Tanah Air. Sejak berdiri pada 1955, CIMB Niaga dikenal sebagai pelopor inovasi digital di sektor perbankan, mulai dari peluncuran ATM pertama di Indonesia hingga layanan mobile banking “Go Mobile” yang kini berevolusi menjadi OCTO Mobile dan OCTO Clicks.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa perjalanan tujuh dekade ini menjadi cerminan komitmen bank untuk terus melayani dengan hati. “Kami berkomitmen melayani masyarakat Indonesia dengan sepenuh hati. Di balik setiap layanan kami, ada semangat membantu nasabah mencapai aspirasinya,” ujarnya dalam acara media gathering di Jakarta, Senin (6/10/2025).
Memasuki usia ke-70, CIMB Niaga meluncurkan strategi jangka panjang baru bertajuk F30 (Forward 2030) sebagai kelanjutan dari strategi sebelumnya, F23+ (2019–2024). Strategi ini menandai babak baru transformasi bank yang menitikberatkan pada kemajuan nasabah dan masyarakat, penguatan ekosistem digital banking, pengembangan SDM dan talenta digital, serta penguatan unit usaha syariah menjelang rencana spin-off pada 2026 sesuai mandat regulasi. “Kami melihat digital dan human capital sebagai dua investasi besar kami sejak 2019,” ungkap Lani.
CIMB Niaga saat ini memiliki lebih dari 9,12 juta nasabah dengan pertumbuhan sekitar 15–17% per tahun, yang didorong oleh kanal digital dan produk inovatif. Dari sisi kinerja, bank memproyeksikan pertumbuhan positif pada kuartal III-2025 di tengah tantangan ekonomi global. Namun diakui Lani, pertumbuhan kredit CIMB NIaga masih berada di kisaran 4,5–4,7%, sedikit di bawah rata-rata industri sekitar 7%.
Baca Juga
CIMB Niaga Fokuskan Program CSR di Indonesia Timur: Perangi Stunting dan Dukung UMKM Perempuan
Kendati demikian, Dana Pihak Ketiga (DPK) CIMB Niaga tumbuh sekitar 11%, menandakan likuiditas yang kuat. Profitabilitas juga tetap terjaga melalui strategi diversifikasi pendapatan non-bunga yang kini berkontribusi sekitar 30–31% terhadap total pendapatan. Bank optimistis persaingan suku bunga antarbank akan lebih rasional setelah pemerintah menggelontorkan tambahan likuiditas Rp200 triliun ke sistem perbankan nasional.
Dalam sesi tanya-jawab bersama media, Primus Dorimulu dari Investortrust menanyakan kondisi likuiditas dan permintaan kredit, mengingat stimulus pemerintah ke daerah belum sepenuhnya terserap oleh sektor riil. Menanggapi hal itu, manajemen CIMB Niaga menjelaskan bahwa likuiditas bank masih sangat kuat, meski permintaan kredit dari pelaku usaha, terutama sektor UMKM, masih lemah.
Sementara itu, terkait rencana naik kelas ke BUKU IV (Bank Umum Kegiatan Usaha IV), CIMB Niaga menyebutkan modal inti telah mencapai sekitar Rp50 triliun, mendekati ambang batas Rp70 triliun. Bank menargetkan masuk kategori tersebut dalam beberapa tahun ke depan untuk bersaing dengan bank besar seperti BCA.
Selain fokus pada kinerja finansial, CIMB Niaga juga memperkuat perannya dalam pemberdayaan sosial melalui berbagai program CSR, terutama di bidang pemberdayaan perempuan dan UMKM. “Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal kesetaraan, tapi juga motor penggerak ekonomi nasional,” ujar Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei. Program ini mencakup pelatihan, literasi digital, serta akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, mayoritas di antaranya adalah perempuan.
Dalam kesempatan yang sama Lani Darmawan juga menegaskan bahwa likuiditas perbankan nasional masih dalam kondisi kuat meskipun permintaan kredit belum pulih sepenuhnya. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) bank tercatat sekitar 80%, menunjukkan posisi yang sehat dan memberikan ruang untuk ekspansi. “LDR kami masih sekitar 80%. Itu posisi sehat, sehingga bank tetap punya ruang untuk ekspansi, tetapi juga siap menghadapi risiko jika kondisi pasar berubah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa di awal 2025 likuiditas industri sempat ketat dengan LDR mendekati 95–98%, terutama di bank-bank besar kategori KBMI 4. Namun, setelah intervensi pemerintah melalui tambahan likuiditas, tekanan tersebut mulai mereda.
Baca Juga
CIMB Niaga Siap Spin Off Unit Syariah pada Mei–Juni 2026, Bagian dari Strategi Jangka Panjang F30
Meski demikian, penyaluran kredit belum pulih secepat yang diharapkan karena daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. “Permintaan kredit belum naik, bukan karena bank tidak mau menyalurkan, tetapi karena demand-nya memang belum ada,” ujarnya.
Dari sisi pertumbuhan sektoral, kredit korporasi perseroan meningkat sekitar 11% berkat proyek infrastruktur dan energi, sementara kredit UKM tumbuh 7–8%. Kredit otomotif mencatat lonjakan hingga 25% dan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit ritel. Namun, kredit properti masih stagnan karena lemahnya permintaan rumah baru.
Terkait kekhawatiran credit crunch, Lani menegaskan bahwa kondisi saat ini belum masuk kategori krisis kredit. “Kita tidak melihat adanya credit crunch. Likuiditas cukup, tapi permintaan pinjaman memang belum meningkat. Jadi yang terjadi adalah perlambatan, bukan pembekuan kredit,” tegasnya.
Bank juga mengingatkan agar kompetisi take-over kredit antarbank tidak sekadar menjadi perpindahan dana tanpa menciptakan pertumbuhan ekonomi baru. “Kalau hanya take-over antarbank, ekonomi riil tidak tumbuh. Yang kita butuhkan adalah proyek dan konsumsi baru,” tambahnya.
CIMB Niaga kini tengah menyiapkan langkah strategis menuju kategori KBMI IV dengan memperkuat modal inti melalui kombinasi pertumbuhan organik dan aksi korporasi. “Rencana ke KBMI IV sudah ada. Potensi dan appetite untuk M&A dari shareholder juga kuat. Kami tinggal melihat peluang yang sesuai di pasar,” ungkap Lani.
Dengan likuiditas nasional yang stabil di akhir 2025, bank melihat peluang ekspansi terukur masih terbuka. Tantangan terbesar justru terletak pada pemulihan permintaan kredit yang masih tertahan akibat lemahnya daya beli masyarakat dan realisasi belanja pemerintah yang belum maksimal. “Kami berharap belanja pemerintah bisa lebih ekspansif agar ekonomi bergerak dan perbankan bisa kembali menjalankan fungsi intermediasi secara optimal,” tutupnya.

