Antisipasi Meningkatnya Potensi Bencana, Allianz Utama Dorong Pentingnya Punya Perlindungan Properti
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia menempati posisi kedua negara paling rawan bencana di dunia setelah Filipina, menurut World Risk Report 2023. Rentetan bencana terbaru menunjukkan tingginya ancaman tersebut.
Misalnya, banjir bandang di Bali pada September 2025 merusak infrastruktur dan menekan pariwisata, banjir besar di Jabodetabek pada Maret 2025 merendam ribuan rumah, serta gempa M4,7 di Bekasi pada Agustus yang dirasakan hingga Jakarta, Depok, dan Sukabumi.
Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia Ignatius Hendrawan mengungkapkan, meski literasi keuangan nasional meningkat, kesadaran terhadap asuransi masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi asuransi hanya 45,45%, dengan inklusi 28,50%.
Baca Juga
Tawarkan Manfaat Tunai hingga 165% dari Total Premi, Allianz Life Rilis Produk 'Endowment' Baru
Bahkan, data MAIPARK 2023 menunjukkan hanya 0,1% dari 64 juta rumah tinggal di Indonesia yang memiliki asuransi properti. “Ketimpangan ini sangat mengkhawatirkan, mengingat besarnya potensi kerugian ekonomi akibat bencana,” ujarnya, dalam Media Workshop ‘Jaga Aset, Jaga Bisnis: Asuransi Properti di Tengah Risiko Bencana’, secara daring, Kamis (2/10/2025).
Ketimpangan ini, lanjut Ignatius, berbahaya mengingat potensi kerugian ekonomi akibat bencana. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lebih dari 1.400 kejadian banjir sepanjang 2023 dengan potensi kerugian lebih dari Rp 500 triliun. Cuaca ekstrem dan kebakaran hutang masing-masing berisiko merugikan hingga Rp 700-800 triliun.
“Masih banyak masyarakat dan pelaku bisnis yang memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tapi belum menjadi kan asuransi sebagai bagian dari strategi perlindungan aset,” katanya.
Padahal tanpa proteksi, menurut Ignatius, kerugian akibat bencana bisa berlipat ganda dan menghentikan aktivitas usaha secara tiba-tiba. Pada akhirnya akan mengganggu kesinambungan usaha dan akan berdampak pada perekonomian nasional.
Baca Juga
Mau Pendapatan Pasti Tiap Tahun? Allianz Life Punya Jawabannya
Sebagai bagian dari Allianz Group, pihaknya menghadirkan produk properti all risk dengan cakupan perlindungan luas, mulai dari aset bisnis seperti kantor, pabrik, dan gudang, hingga perluasan risiko banjir, gempa dan pencurian.
Produk ini juga mencakup perlindungan atas kehilangan pendapatan akibat berhentinya operasional pasca bencana. Hal ini sejalan dengan komitmen Allianz dalam menghadirkan layanan klaim cepat dan transparan, termasuk jalur khusus untuk bencana berskala besar.
“Allianz percaya bahwa proteksi asuransi bukan sekadar menjaga aset fisik, tapi juga menjaga kesinambungan bisnis dan stabilitas ekonomi. Kami berkomitmen untuk meningkatkan literasi asuransi agar semakin banyak pelaku usaha menyadari pentingnya perlindungan ini,” ucap Ignatius.
Risiko bencana juga berdampak tidak langsung. Studi BPS menunjukkan, setiap satu kejadian bencana dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar Rp 2.386, dengan potensi kerugian tahunan hingga Rp 7,43 juta per kapita.
Selain itu, sektor perdagangan dan manufaktur mencatat dampak terbesar dengan kerugian masing-masing Rp 23,96 triliun dan 19,51 triliun per tahun.
Strategic Planning & Risk Management Group Head MAIPARK Indonesia Ruben Damanik menyatakan, Indonesia memiliki 295 sesar aktif dan dalam lima tahun terakhir muncul gempa dari patahan yang belum terpetakan. Potensi megathrust yang memicu guncangan besar hingga tsunami masih mengintai.
“Kerentanan Indonesia terhadap bencana sudah terbukti. Tanpa langkah mitigasi yang kuat, termasuk perlindungan finansial melalui asuransi, kerugian yang ditimbulkan bisa sangat luas. Tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga sektor ekonomi secara keseluruhan,” ujar Ruben.

