DeFi vs Bank Digital: Jepang Jadi Arena Pertarungan Masa Depan Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tokyo, Jepang, tampaknya bersiap menjadi episentrum pertarungan masa depan industri keuangan global. Dua kekuatan besar, yaitu keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFI) dan bank digital, kini bergerak dalam arah berbeda namun menuju tujuan sama, menguasai arus transaksi di era Web3.
Pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ) mengungkapkan keyakinannya bahwa DeFi akan melampaui peran bursa terpusat atau centralized exchange (CEX). Menurutnya, volume transaksi di bursa terdesentralisasi atau decentralized exchange (DEX) suatu saat akan lebih besar dibandingkan CEX.
“DeFi adalah masa depan. Normal trading seharusnya menjaga privasi, ujarnya, dilansir dari BeInCrypto, Senin (1/9/2025).
Baca Juga
Tokocrypto dan Sekuya Jalin Kolaborasi Strategis untuk Dorong Inovasi Web3 Lokal
BNB Chain, ekosistem blockchain yang lahir dari Binance, kini menampung lebih dari 4.000 aplikasi terdesentralisasi, termasuk PancakeSwap dan Aster. Dengan komunitas sebagai pendorong utama, CZ menilai jaringan ini berkembang pesat berkat kontribusi kolektif, bukan hanya figur sentral.
Namun di lain sisi, Jepang melalui Japan Post Bank menyiapkan langkah berbeda. Bank dengan 120 juta rekening dan total dana kelolaan 190 triliun yen (sekitar US$ 1,29 triliun) itu akan meluncurkan mata uang digital bernama DCJPY pada tahun fiskal 2026.
Mata uang digital tersebut akan dipatok satu banding satu dengan yen, dikembangkan bersama DeCurrent DCP, dan dapat digunakan untuk membeli token sekuritas maupun non fungible token (NFT). Bank berharap DCJPY bisa menghidupkan kembali saldo dorman, mempercepat transaksi berbasis blockchain, serta menarik minat generasi muda.
Baca Juga
Pemerintah AS Distribusikan Data PDB ke Sembilan Blockchain, Apa Saja?
Lebih jauh, Japan Post Bank juga membayangkan subsidi pemerintah dan hibah publik dapat langsung disalurkan melalui DCJPY. Hal ini diyakini akan memperluas penggunaan uang digital dalam kehidupan sehari-hari.
Laporan Boston Consulting Group bersama Ripple memperkirakan, pasar aset dunia nyata yang ditokenisasi atau real world assets (RWA) dapat tumbuh dari US$ 600 miliar pada 2025 menjadi US$ 18,9 triliun di 2033. Potensi inilah yang coba ditangkap baik oleh BNB Chain maupun bank digital Jepang.

