Didukung Meredanya Ketegangan Geopolitik, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.209 per Dolar AS Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan, Kamis (3/7/2025). Berdasarkan referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dari Bank Indonesia (BI), rupiah terapresiasi 27 poin (0,16%) ke level Rp 16.209 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.236 pada Rabu (2/7/2025).
Sementara itu, di pasar spot valuta asing, data Bloomberg menunjukkan penguatan rupiah lebih tinggi, yakni sebesar 51 poin atau 0,32% ke posisi Rp 16.195 per dolar AS.
Baca Juga
IHSG Ditutup Lanjutkan Penurunan hingga Nilai Transaksi Saham di BEI Anjlok, Ada Apa?
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah hari ini didorong oleh sejumlah sentimen positif global, salah satunya adalah kabar meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Risiko geopolitik berkurang tajam setelah munculnya kabar kemungkinan gencatan senjata 60 hari dalam serangan Israel ke Gaza, serta kelanjutan kesepakatan damai Israel-Iran yang masih berlaku,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/7).
Dari sisi makroekonomi AS, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis lebih awal karena libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat.
Baca Juga
Margin Diprediksi Pulih, Begini Target Harga Saham Merdeka Battery (MBMA)
Ekonom memperkirakan tambahan pekerjaan hanya sekitar 110.000 pada Juni, turun dari 139.000 di bulan sebelumnya. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. “Data pasar tenaga kerja yang melambat bisa menjadi alasan kuat bagi Fed untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut,” jelas Ibrahim.
Dalam perkembangan politik, Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga, sekaligus mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell. Trump juga menyoroti isu fiskal AS, termasuk RUU pajak dan belanja yang kontroversial. DPR AS dikabarkan tengah mempertimbangkan pemungutan suara terkait RUU tersebut.
“Kekhawatiran terhadap peningkatan utang pemerintah AS dan kesehatan fiskal telah memicu aksi jual obligasi, yang berdampak pada tekanan terhadap nilai tukar dolar,” tutur Ibrahim.

