Allo Bank Ungkap Dampak Tarif Resiprokal Bagi Perbankan RI
JAKARTA, investortrust.id - Komisaris Utama Independen PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Aviliani menyampaikan pandangannya terkait dampak kebijakan tarif resiprokal sebesar 32% bagi perbankan di Indonesia.
Menurut Aviliani, dampak pertama dari tarif resiprokal bagi perbankan di Tanah Air adalah terjadinya depresiasi rupiah akan menekan permodalan perbankan dan kenaikan suku bunga harus diantisipasi.
"Kedua, tergerusnya valuasi saham perbankan akibat volatilitas pasar saham di berbagai negara Asia termasuk Amerika Serikat sendiri," ujar Aviliani dalam acara Public Expose 2025 PT Allo Bank Indonesia Tbk di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (10/4/2025).
Aviliani menjelaskan, akibat dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ini juga menyebabkan potensi terjadinya peningkatan NPL akibat adanya tekanan pada industri yang bersifat padat karya. Kemudian, perlambatan pertumbuhan dan penyaluran kredit pengusaha cenderung akan wait and see dalam merespon dinamika pasar.
Lebih lanjut, Aviliani menyebut, peningkatan kredit konsumsi cenderung akan mengalami peningkatan. Namun begitu, Aviliani membeberkan bahwa perbankan harus menerapkan prinsip 5C untuk mencegah potensi gagal bayar.
Diketahui, prinsip 5C adalah kriteria yang digunakan untuk menilai kelayakan calon debitur dalam mendapatkan pinjaman. 5C merupakan singkatan dari character, capacity, capital, collateral, dan condition.
Baca Juga
"Dampak tarif resiprokal bagi perbankan selanjutnya adalah potensi gangguan pada stabilitas sistem keuangan yang dapat membahayakan perbankan Buku I dan Buku II," kata Aviliani.
Sebagai tambahan informasi, tarif resiprokal Amerika Serikat sendiri berlaku mulai tanggal 9 April 2025. Terdapat beberapa produk yang dikecualikan dari tarif resiprokal yakni antara lain barang yang dilindungi 50 USC 1702(b) misalnya barang medis dan kemanusiaan, produk yang telah dikenakan tarif berdasarkan Section 232 yaitu baja, aluminium, mobil dan suku cadang mobil, produk strategis yaitu tembaga, semikonduktor, produk kayu, farmasi, bullion (logam mulia), serta energi dan mineral tertentu yang tidak tersedia di Amerika Serikat.

