Laba 4 Bank Kakap "BCA, BRI, BNI, dan Bank Mandiri" per Agustus, Secara Tahunan Kompak Naik
JAKARTA, investortrust.id - Empat bank kakap Indonesia berhasil mencatatkan laba bersih yang cukup baik per Agustus 2024. Kinerja ditopang momentum pertumbuhan penyaluran kredit yang masih terjaga ekspansif.
Informasi terbaru misalnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih (bank only) sebesar Rp 4,3 triliun per Agustus. Raihan itu turun 5,4% month on month (MoM), namun secara year on year (YoY) mengalami kenaikan 6,4%. Hasil ini membuat laba bersih bank only selama delapan bulan di tahun ini tumbuh menjadi Rp 33,6 triliun atau naik 6,5% YoY.
Mengutip Stockbit, performa tersebut didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang naik 22,6% YoY, net interest margin (NIM) yang turun secara bulanan dengan penurunan opex, serta cost of credit (CoC) bulanan terendah selama 2024.
Penurunan laba bersih BMRI secara bulanan dipicu oleh tidak adanya penerimaan dividen dari anak usaha pada Agustus 2024, sementara pada Juli 2024 penerimaan dividen dari anak usaha mencapai Rp 303 miliar. Meski dividen dari anak usaha termasuk ke dalam non–interest income pada laporan keuangan bank only, perlu diketahui bahwa penerimaan ini akan tereliminasi pada laporan keuangan konsolidasi.
“Kami menilai kinerja BMRI pada Agustus 2024 sebagai kinerja yang cukup positif, khususnya dari keberhasilan perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi dibandingkan big 4 banks lainnya. Kami juga melihat performa positif perseroan dalam menjaga CoC, yang mengindikasikan terjaganya kualitas aset meski kredit bertumbuh tinggi. Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang tinggi menyebabkan mengetatnya likuiditas perseroan, dengan loan to deposit ratio BMRI pada Agustus 2024 menempati posisi kedua tertinggi di antara big 4 banks lainnya,” tulis Lead Investment Analyst Stockbit Rahmanto Tyas Raharja dalam risetnya, Senin (30/9/2024).
Baca Juga
Laba BRI di Agustus Tembus Rp 4,8 Triliun, Melesat 51% Secara Bulanan
Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI membukukan laba bersih bank only mencapai Rp 4,8 triliun pada Agustus 2024. Nilai tersebut melesat 51% secara bulanan (MoM) atau 21% secara tahunan (YoY).
“Kami menilai kinerja bank only dari BBRI pada Agustus 2024 sebagai performa yang positif,” ucap Lead Investment Analyst Stockbit Rahmanto Tyas Raharja dalam risetnya.
Hasil ini membuat laba bersih bank only BRI selama delapan bulan tahun 2024 tumbuh menjadi Rp 36,2 triliun atau naik 4% YoY. Performa positif tersebut didukung oleh pertumbuhan pre provision operating profit (PPOP) yang didorong non interest income (NII) dan net interest margin (NIM) terjaga, credit cost (CoC) yang membaik, dan kredit yang melandai dan penurunan deposito.
Baca Juga
Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan laba bersih secara bank only Rp 35,99 triliun per Agustus 2024. Raihan laba bersih ini tumbuh 13,50% secara tahunan dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp 31,70 triliun. Sementara kredit tercatat Rp 843,70 triliun atau meningkat 15,56% YoY. Realisasi penyaluran kredit ini berada di atas rerata industri perbankan yang sebesar 11,40% di Agustus 2024.
Alhasil laba bersih BCA sepanjang delapan bulan ini mencapai Rp 36 triliun atau melonjak 13,5% YoY. Kinerja baik ini didorong oleh beberapa faktor, seperti pertumbuhan kredit yang kuat, marjin bunga bersih (NIM) yang tetap tinggi, dan biaya kredit yang terkendali dengan baik.
“Kami menilai pertumbuhan kredit ke depan akan semakin mendekati target guidance,” tulisnya Rahmanto dalam risetnya.
Lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih (bank only) senilai Rp 1,7 triliun, turun 12,4% MoM dan naik 12,7% YoY pada Agustus 2024. Sehingga selama delapan bulan di tahun 2024 labanya mencapai Rp 14,2 triliun atau naik 4,3% YoY.
Performa ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang melandai PPOP tertekan NIM yang sedikit melemah dan peningkatan opex dan credit cost yang sedikit meningkat.
“Kami menilai kinerja bank only BBNI pada Agustus 2024 sebagai performa yang netral. Kami melihat sisi positif dari terjaganya NIM dan credit cost. Concern kami ke depannya terdapat pada kemampuan BBNI untuk dapat menjaga likuiditas dan NIM perseroan. Rasio loan to deposit BBNI sendiri merupakan yang tertinggi dibandingkan big 4 banks lainnya. Adapun penurunan BI Rate dapat menjadi sentimen positif untuk dapat menjaga NIM perseroan,” tulisn Rahmanto.

