Bos BNI Optimistis Cetak Profit Sesuai Target di Era Tren Suku Bunga Tinggi
JAKARTA, Investortrust.id –Manajemen PT Bank Negara Indonesia (persero) (BNI) Tbk optimistis mencetak laba di tahun likuiditas ketat akibat tekanan global dan ekspektasi kenaikan inflasi di dalam negeri. Di tengah persaingan memperebutkan dana masyarakat dan sejumlah regulasi yang cukup berat, BNI terus mendukung kebijakan pemerintah dengan mengarahkan kredit ke sektor yang menjadi prioritas pemerintah, di antaranya hilirisasi.
Likuiditas ketat dan suku bunga tinggi yang terjadi tahun lalu berlanjut di 2025. “Kendati demikian, kami optimistis bersama pemerintahan baru. BNI memiliki cadangan yang cukup dan profit tetap bisa tercapai sesuai target,” ujar Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk, Royke Tumilaar, saat bersilaturahmi dengan para pemimpin media massa di Jakarta, Senin (13/1/2025).
Bicara soal tren suku bunga tinggi, dikatakan Royke kondisi ini tak terlepas dari kecenderungan tingkat inflasi yang masih tinggi di negara yang masih menjadi acuan kebijakan moneter dunia, Amerika Serikat.
Sebagaimana diberitakan, pejabat Federal Reserve (The Fed) mengonfirmasi bahwa Bank Sentral AS kemungkinan akan mempertahankan tingkat suku bunga pada level yang ada saat ini untuk jangka panjang, dan baru akan menurunkan ketika inflasi benar-benar melambat.
Melansir tradingeconomics.com, inflasi AS November 2024 tercatat sebesar 2,7% sesuai kesepakatan, dan angka tersebut mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,6%. Angka inflasi ini masih relatif tinggi dibandingkan target yang ditetapkan bank sentral AS di angka 2%.
Pada pertemuan terakhir Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed pada 18 Desember 2024, Bank Sentral AS ini memangkas suku bunga acuan hanya sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%–4,5%.
Dengan acuan kebijakan moneter yang masih mengekor pada suku bunga dolar AS, bankir-bankir domestik, termasuk BNI pun memproyeksikan bahwa penurunan tingkat suku bunga pada tahun ini bakal sangat terbatas.
Baca Juga
“Kita dihadapkan dengan suku bunga yang relatif cukup tinggi, yang ekspektasinya agak agresif akan turun di second semester tahun lalu dan tahun ini akan turun lagi dengan situasi ini. Dengan melihat perkembangan pemerintahan Trump yang baru, kemungkinan suku bunga ini akan turun kecil sekali di US dollar. Kita juga dihadapkan pada inflasi yang semakin tinggi. Penurunan suku bunga di Indonesia juga akan sulit untuk kita memprediksi akan turun,” kata Royke.
Tantangan yang bakal dihadapi perbankan di Tanah Air di tengah tren suku bunga tinggi, adalah tingkat cost of fund yang juga naik.
Namun demikian, BNI punya strategi yang akan mampu mengkompensasi tinggi biaya dana tersebut. Disampaikan Royke, sejumlah langkah yang disiapkan antara lain menggelar inovasi, melakukan perbaikan proses bisnisagar lebih efisien dan kompetitif, dan berikutnya meningkatkan kualitas layanan pada nasabah.
Disampaikan Royke, dengan menjaga tingkat loyalitas nasabah dengan meningkatkan kenyamanan mereka saat bertransaksi, diharapkan akan mampu mengkompensasi kenaikan cost of fund. Bahkan layanan konvensional di kantor cabang pun akan kembali ditingkatkan, karena menurut Royke, tak semua nasabah perbankan di Tanah Air sudah mengadopsi layanan online banking.
“Kita juga ingin kenyamanan nasabah ini juga dapat (terpenuhi), sehingga itu akan sedikit mempengaruhi,” tuturnya.
Selain itu BNI juga menetapkan meningkatkan pencadangan sebagai buffer menjadi Rp7 triliun di tahun ini. Sekadar informasi, pada November 2024 beban pencadangan BNI tercatat sebesar. Rp 6,41 triliun.
“Kita menambah pencadangan sampai Rp 7 triliun. Kita tambahkan tahun-tahun ini untuk antisipasi situasi ke depan,” ujar Royke. Langkah peningkatan pencadangan ikut memperkuat daya tahan BNI di samping mengeksekusi sejumlah strategi berupa transformasi, baik digital operation, business, inovasi. “Sehingga kita berharap, bank ini bisa sustain, tumbuh dan bisa menghadapi apapun situasi ekonomi yang bergejolak,” imbuhnya.
Baca Juga
Dalam kesempatan yang sama Royke mengapresiasi program-program pemerintahan Prabowo – Gibran yang menurutnya sangat bagus, terkait hilirisasi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan UMKM.
BNI pun menurut Royke telah ikut andil dalam program hilirisasi, dengan besaran lending hingga Rp 60 triliun untuk hilirisasi di berbagai sektor, seperti mineral dan batu bara, hingga pertanian. Kendati BNI harus tetap membagi risiko dalam pembiayaan program-program hilirisasi denga membentuk sindikasi dengan kolega perbankan lainnya.
“Karena ini soal biaya, nggak mungkin satu bank biayain sendiri project hilirisasi, biasanya sindikasi. Karena jumlah amount-nya juga nggak kecil. Kalau bisa kita sharing risk, tidak kita sendirian,” ujarnya.

