BNI Perkuat Keamanan Siber untuk Halau Serangan Digital
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI fokus untuk menjaga keamanan siber khususnya di era ekonomi digital. Hal ini merupakan upaya BNI mengantisipasi risiko ancaman keamanan siber yang terus meningkat seiring perkembangan teknologi yang makin masif.
“Keamanan data dan transaksi digital adalah prioritas utama kami di BNI. Kami terus memperkuat sistem keamanan berlapis dengan teknologi terkini untuk memastikan keamanan setiap transaksi,” ujar SEVP Technology & Operations BNI Victor Korompis, dalam keterangan pers, Senin (16/12/2024).
Baca Juga
BNI Sekuritas Prediksi IHSG Jumat (13/12/2024) Cenderung Sideways, Saham Pilihan Ada PANI
Sejalan dengan itu, Direktur Technology and Operations BNI Toto Prasetio mengungkapkan, saat ini digitalisasi menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setali tiga uang, BNI berupaya mendukung transformasi digital melalui platform BNIdirect.
“Platform dengan teknologi terkini ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan bisnis nasabah dengan menyediakan solusi lengkap dan terintegrasi,” katanya.
Semua ini dilakukan, lanjut Toto, agar pelaku usaha di Indonesia dapat beradaptasi dan berkembang di pasar digital yang semakin dinamis. Mengutip data Google Temasek dan Bain Company (2024), Toto mengatakan, sekitar 35% pangsa ekonomi internet ASEAN ada di Indonesia.
“Selain itu, ekonomi internet Indonesia diprediksi akan tumbuh sekitar US$ 360 miliar pada tahun 2030,” ucap Toto.
Baca Juga
Begini Cara BNI Dorong Diaspora Indonesia di Hong Kong Naik Kelas
Sementara itu, Managing Director and Partner Boston Consulting Group Nerijus Zemgulys menyatakan, kesenjangan dengan negara-negara ASEAN lainnya masih signifikan, meski ekonomi digital nasional diproyeksi akan terus tumbuh. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi industri perbankan.
“Berdasarkan data World Bank 2022, kontribusi ekonomi digital Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan sekitar 12%, sementara Singapura menyumbangkan sebesar 37%, Malaysia 25%, dan Thailand 14%,” ujar dia.

