DBS Sebut Sektor Perbankan dan Teknologi Menjanjikan, tapi Properti dan Ritel Menantang di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Equities Specialist DBS Group Research Maynard Arif memproyeksikan jika sektor perbankan dan teknologi masih memiliki prospek cerah di 2025, sementara sektor properti dan ritel diperkirakan akan menghadapi tantangan.
Menurutnya, sektor perbankan memiliki prospek positif berkat potensi penurunan suku bunga dan stabilitas pertumbuhan kredit.
“Di sektor perbankan mestinya overweight. Jadi sektor perbankan dari sisi pertumbuhan kredit kelihatannya masih akan cukup lumayan,” ujar Maynard secara virtual, dalam Group Interview bersama Ekonom Bank DBS, Rabu (11/12/2024).
Dikatakan dia, untuk sektor teknologi, khususnya terkait pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan infrastruktur data center, juga memiliki prospek yang cerah.
”Dari sisi sektor telekom akan lebih dari sisi infrastrukturnya, terutama seperti data center yang mendorong AI. Jadi ini yang mungkin fokusnya lebih ke sana,” kata Maynard.
Baca Juga
Sementara itu, untuk sektor properti diperkirakan akan mengalami masa yang menantang. Karena pasar properti, lanjut dia, akan terdampak oleh volatilitas global dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
“Sektor properti kemarin koreksi setelah Trump terpilih, jadi juga dampaknya lumayan besar terhadap sentimen sektor properti,” ucapnya.
Baca Juga
Bank Berlomba Kembangkan Perbankan Digital, Demi Efisiensi dan Peningkatan Kualitas Layanan
Lalu untuk sektor ritel, juga mengalami tantangan. Meski pemerintah Indonesia telah menaikkan upah minimum, tapi persoalan mengenai daya beli masyarakat masih menjadi kendala.
“Untuk sektor yang mungkin masih agak challenging, mungkin adalah dari sektor ritel. Kami masih menunggu bagaimana kiranya program-program pemerintah yang baru untuk membantu konsumsi,” ujar Maynard.

