Bank Berlomba Kembangkan Perbankan Digital, Demi Efisiensi dan Peningkatan Kualitas Layanan
JAKARTA, investortrust.id – Perbankan di Indonesia terus berlomba mengembangkan layanan perbankan digital. Upaya ini dilakukan, antara lain demi meningkatkan efisiensi serta kualitas layanan masing-masing bank yang bertransformasi.
CEO Investortrust.id Primus Dorimulu menyebutkan, saat ini di Indonesia sudah terbentuk masyarakat non-tunai atau cashless society. Hal ini diiringi penurunan transaksi tunai, meski penggunaan layanan perbankan digital belum merata di seluruh pelosok negeri.
“Membawa smartphone lebih penting dibanding dompet. Semua layanan perbankan, mobile banking dan internet banking bisa dilakukan lewat HP. Cukup aktifkan aplikasi layanan digital banking, transaksi bisa langsung terjadi lewat QR (quick response code),” papar Primus dalam Digital Banking Awards 2024 di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Menurut dia, saat ini tidak ada satu bank pun di Tanah Air yang tidak mengembangkan digital banking atau layanan perbankan berbasis digital, baik mobile banking maupun internet banking.
Baca Juga
Transaksi QRIS Melesat 46 Kali Lipat Dalam Empat Tahun Terakhir
Selain demi efisiensi dan peningkatan kualitas, perkembangan pesat digital banking juga didukung kemajuan teknologi, pertumbuhan pengguna smartphone, dan gaya hidup masyarakat, terutama Gen Y dan Z.
Berdasarkan data yang diolah Investortrust, pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia bertambah banyak dari 54 juta menjadi 209,3 juta orang sepanjang periode 2015-2023.
“Hampir semua orang Indonesia berinternet. Sebanyak 4 dari 5 orang indonesia sudah berinternet dari 2016 ke 2024 kita lihat ada perubahan cukup signifikan yakni 80%,” ujar Primus.
Sejalan dengan hal tersebut, nilai transaksi digital banking pun melonjak tajam. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, transaksi digital banking per Oktober 2024 mencapai 1.960,8 juta transaksi atau tumbuh 37,1% year on year (yoy). Sedangkan transaksi uang elektronik (UE) tumbuh 27% (yoy) mencapai 1.365,4 juta transaksi.
Baca Juga
Bayu Prawira Hie: Digital Banking untuk Kemasalahatan Seluruh Masyarakat Indonesia
Sebaliknya, pembayaran menggunakan kartu ATM pada Oktober 2024 turun 11,4% (yoy) menjadi 558,8 juta transaksi.
Penggunaan digital banking juga bertumbuh pesat berkat QRIS yang mulai diperkenalkan tahun 2019. Transaksi QRIS terus bertumbuh pesat 183,9% (yoy), dengan jumlah pengguna sampai dengan Oktober 2024 sebesar 54,1 juta dengan jumlah merchant 34,7 juta.
Bank Indonesia memproyeksikan, nilai transaksi digital banking tahun ini bisa meningkat 23,2% mencapai Rp 71.584 triliun dan pada 2025 akan tumbuh 18,8% menjadi Rp 85.044 triliun.
Masih dari sumber data yang sama, transaksi e-commerce juga diperkirakan tumbuh 2,8% menjadi Rp 487 triliun pada 2024 dan 3,3% menjadi Rp 503 triliun pada 2025.
“Layanan digital banking sudah menciutkan jumlah kantor cabang. Pada 2014 terdapat 118 bank dengan 32.739 kantor cabang. Tahun ini, jumlah bank ada 105 dan kantor cabang 24.276. Kantor cabang turun 8.467 atau 25,8%,” sambung Primus.

