Perkembangan Digital Banking Masih Diselimuti Sejumlah Tantangan, Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id – Perkembangan digital banking di Indonesia masih diselimuti sejumlah tantangan, mulai dari kebocoran data hingga besarnya gap inklusi dan literasi. Hal ini diungkapkan CEO Investortrust.id Primus Dorimulu dalam Digital Banking Awards 2024.
“Setidaknya ada lima tantangan. Pertama, layanan digital perbankan penting bagi generasi baru. Sekitar 89% pengguna layanan digital adalah Gen Z dan Gen Y,” ujar Primus di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Sebagai contoh, dilihat dari proporsi usia pengguna salah satu bank terbesar di Indonesia pada 2024, dominasi Generasi Z yang berusia 17-27 tercatat mencapai 49% dari total nasabah. Disusul jumlah nasabah berusia 28-44 tahun yang ada sebanyak 40%, sisanya sekitar 11% merupakan nasabah berusia di atas 44 tahun.
Tantangan kedua adalah pentingnya menjaga keamanan data. Pasalnya kasus kebocoran data nyata pernah terjadi sehingga perusahaan-perusahaan bank yang memberikan layanan digital dinilai perlu membentuk mitigasi terhadap risiko serangan siber.
Merujuk data yang diolah Investortrust, jumlah akun yang menjadi korban peretasan di Indonesia per kuartal I 2024, meningkat lebih dari tiga kali lipat secara tahunan (year on year/yoy). Lebih tepatnya, dari 800 akun pada kuartal I 2023 menjadi 3,41 juta akun diretas pada kuartal pertama tahun ini.
Baca Juga
Bank Berlomba Kembangkan Perbankan Digital, Demi Efisiensi dan Peningkatan Kualitas Layanan
Tantangan ketiga yang menghantui keberadaan digital banking adalah kebijakan industri keuangan, yang secara umum yang mengandalkan layanan teknologi kepada pihak ketiga (outsourcing). Hal ini dapat membawa risiko kebocoran data nasabah.
“Keempat, risiko penyalahgunaan teknologi, khususnya AI (artificial intelligence) yang berpotensi memunculkan pemalsuan gambar teks dan audio yang dapat dipergunakan untuk pembobolan akun nasabah,” sambung Primus.
Sedangkan tantangan kelima, meliputi literasi digital yang baru sekitar 41%, di bawah literasi perbankan yang sudah mencapai 49,9%. Keenam, terdapat kesenjangan infrastruktur digital karena gap distribusi internet dan adopsi digital, khususnya di pedesaan dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Tantangan ketujuh bagi digital banking justru dialami regulator, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat pengawasan berbasis teknologi atau supervision technology (suptech).
Baca Juga
Direktur IBC Bayu Prawira Ungkap 3 Tantangan dalam Digitalisasi Perbankan Indonesia, Apa Saja?
Primus pun menegaskan bahwa Digital Banking Awards diselenggarakan untuk mendorong perbankan, bank konvensional yang masih hybrid, maupun digital bank agar berlomba-lomba memberikan layanan terbaik kepada nasabah.
Selain itu, perbankan juga diharapkan semakin menghadirkan kemudahan kepada nasabah, memproteksi nasabah, meningkatkan efisiensi, serta menggerakkan ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi.
“Paling tidak, perbankan itu ikut berkontribusi mewujudkan cita-cita presiden baru kita, mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8%,” tutupnya.
Sebagai informasi, acara yang diselenggarakan Investortrust dan International Business Community (IBC) tahun ini mengambil topik ‘Leading Digital Banking with Al, Data Protection, and Superapps’. Sedangkan digital banking diartikan sebagai layanan perbankan berbasis digital, baik mobile banking maupun internet banking.

