Transaksi QRIS Melesat 46 Kali Lipat Dalam Empat Tahun Terakhir
JAKARTA, investortrust.id – Nilai transaksi quick response code Indonesia standard (QRIS) tercatat naik 46 kali lipat dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data periode 2020-2024, nilai transaksi dimaksud, bertumbuh pesat sekitar 4.700% menjadi Rp 365 triliun.
Bersamaan hal tersebut, transaksi mobile banking dalam perbandingan periode yang sama, naik hampir tiga kali lipat menjadi Rp 12.724 triliun. Hal sama, terjadi pada transaksi internet banking yang naik tiga kali lipat menjadi Rp 35.589 triliun.
“Kalau kedua ini transaksinya terlihat menurun di ujung, itu cerminan dari perlambatan ekonomi kita,” jelas CEO Investortrust.id Primus Dorimulu dalam Digital Banking Awards 2024 di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Selain bank konvensional yang mengembangkan layanan perbankan secara hybrid, Primus mengingatkan bahwa ada pula bank yang 100% digital atau tanpa layanan offline.
Baca Juga
Asyiik..! Sebentar Lagi Warga RI Bisa Beli Cokelat Pistachio Khas Dubai Pakai QRIS
Jumlah bank yang menyediakan layanan perbankan secara online tanpa kantor fisik selain kantor pusat atau dengan kantor fisik terbatas di Indonesia, sudah mencapai 18 bank digital per September 2024. Jumlah ini bertambah cukup banyak dibandingkan total 10 bank digital pada 2021.
Namun untuk saat ini, jumlah bank dengan layanan hybrid lebih mendominasi layanan digital banking dibandingkan bank digital murni.
“Tetapi apapun itu, apakah 100% digital bank atau hybrid, terpenting adalah bagaimana kualitas layanannya dan bagaimana mendapatkan nasabah yang aktif bertransaksi,” tegas Primus.
Dilihat dari jumlah penggunanya, Investortrust mengumpulkan data dari 26 bank yang memiliki aplikasi perbankan. Aplikasi milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yaitu Brimo tercatat memiliki jumlah pengguna terbanyak, yakni 27,1 juta pengguna.
Baca Juga
QRIS Cross-border Hubungkan Indonesia dengan Jaringan Pembayaran Global
Jumlah pengguna aplikasi bank terbanyak disusul oleh Livin Mandiri dengan total 27,3 juta orang, kemudian ada Neobank 21,6 juta pengguna, dan setelahnya ada BNI mobile banking dengan 16,9 juta pengguna.
“Jadi ada persaingan antara digital banking dan digital bank. Kita cukup senang dengan data ini karena pada akhirnya bertujuan melayani masyarakat. Penetrasi layanan perbankan digital ini menurunkan jumlah penduduk Indonesia yang belum menggunakan layanan finansial, hingga 21% dalam enam tahun,” jelas Primus.
Jumlah penurunan 21% tersebut, mencerminkan estimasi total penduduk unbankable sebanyak 80 juta orang pada 2016 menjadi 54,39 juta orang pada 2022.

