Pemerintah Fokus Hilirisasi hingga Swasembada Pangan dan Energi, Ini Respons BRI
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI buka suara terkait kebijakan pemerintah yang akan fokus kepada hilirisasi, serta swasembada pangan dan energi.
Seperti yang diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen Indonesia menuju swasembada pangan dan energi sebagai langkah utama guna menghadapi tantangan global yang makin kompleks.
Prabowo menyampaikan bahwa dalam situasi krisis global, negara-negara lain akan mengutamakan kepentingan domestiknya. Untuk itu, Indonesia harus mampu memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan nasional secara mandiri.
Sehubungan dengan kebijakan tersebut, Direktur Utama BRI Sunarso pun menyampaikan pandangannya dengan membaginya kedalam dua kerangka, yaitu kerangka tujuan nasional dan kerangka bisnis. Sunarso menjelaskan, dari kerangka tujuan nasional, BRI rutin melakukan analisa.
"Dari rangka tujuan nasional, BRI kebetulan rutin kita itu melakukan analisa. Dan berdasarkan analisa kita, pasti ada data-data yang kita analisis, itu ketemunya begini. Pertama, jika
Baca Juga
Hilirisasi dan Industrialisasi, Motor Utama Transformasi Ekonomi
Lebih lanjut, Sunarso menyebut, supaya bisa tumbuh di atas 6%, maka faktor dominan yang menjadi penentu adalah sumber daya manusia.
"Nah setelah kita sampai ketemu human capital, kalau begitu apa basis yang harus kita kerjakan untuk meningkatkan kualitas human capital itu?. Dan ternyata ketemu adalah faktor pangan, baik ketersediaannya maupun kualitasnya. Jadi klop dengan apa yang dicita-citakan pemerintah, program pemerintah, maka fokuslah kepada swasembada pangan. Dan kemudian swasembada pangan itu, ya kemudian kan kita juga manusianya ada kecukupan pangan, kecukupan nutrisi," ungkap Sunarso.
Kemudian, kata Sunarso, karena adanya kecukupan pangan dan kecukupan nutrisi, maka seseorang menjadi sehat. Sehingga, kemudian bisa dikasih pendidikan yang berkualitas.
"Maka kemudian ada program-program yang penguasaan sains dan teknologi dan segala macam, itu masuk di situ. Itu bagian daripada menguji untuk menentukan faktor penentunya, ternyata memang human capital. Dan kemudian energi, ya pasti masuk di dalamnya, itu bagian daripada perputaran ekonomi nanti di situ. Baik, kira-kira itu, maka menurut kami di BRI, baik kajian yang secara internal BRI maupun yang mungkin dibuat oleh pemerintah, sebenarnya tidak ada perbedaan sama sekali dalam rangka-kerangka tujuan ekonomi nasional," jelas Sunarso.
Baca Juga
Hilirisasi Tekan Impor dan Dorong Geliat Manufaktur Nasional
Adapun dari kerangka bisnis, Sunarso menyampaikan bahwa BRI menganalisa dari sisi peluang bisnisnya. Menurut Sunarso, dengan adanya hilirisasi atau penciptaan nilai tambah, maka yang terdampak adalah kemampuan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Artinya, akan ada distribusi pendapatan lebih baik dan kemudian meningkatkan value produk-produk yang selama ini dijual dalam bentuk bahan mentah menjadi naik karena sudah kena sentuhan-sentuhan teknologi, tenaga kerja, dan lain-lain lain.
"Maka kemudian itu akan mendorong penyerapan tenaga kerja, menjorong produktivitas dan itu akan memaju pertumbuhan. Dan bank pasti akan menikmati bisnis dari peningkatan distribusi pendapatan, peningkatan pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dari aktivitas menghilirkan produk-produk tambang maupun produk-produk agrikultur itu. Jadi itu merupakan peluang bisnis yang luar biasa," pungkas Sunarso.

