Bos BCA Sebut Ada Potensi Penurunan Bunga Kredit Pasca BI Rate Dipangkas Jadi 6%
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk atau BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan adanya potensi penurunan suku bunga kredit di bank berkode saham BBCA ini, menyusul pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6% pada pertengahan September lalu.
“Saya tidak menjawab langsung bahwa penurunan bunga ini (BI Rate) akan langsung menurunkan bunga kredit, tapi potensi ada,” ujarnya, dalam paparan kinerja kuartal ketiga 2024 BCA, secara daring, Rabu (23/10/2024).
Namun lebih jauh, lanjut Jahja, hal paling penting dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga kredit adalah harus melihat dari sisi cost of fund suatu bank, pengaruhnya, serta dari risiko kredit itu sendiri.
“Ini yang mengkompensasi kemungkinan penurunan kredit,” katanya.
Baca Juga
Bos BCA Optimistis Pemerintahan Prabowo-Gibran Bakal Dukung Perbankan
Dikatakan dia, memang betul bahwa BI Rate digunakan sebagai acuan industri perbankan. Tapi penurunan bunga kredit di BCA tidak 100% disebabkan oleh turunnya suku bunga acuan BI. Sebab likuiditas BCA berkecukupan.
“Loan to deposit ratio (LDR) kita masih 75%, jauh daripada industri yang di atas 85% atau mendekati 90%. Jadi kita masih flash with cash,” ucap Jahja.
Hal lainnya yang menjadi pertimbangan penurunan bunga kredit perbankan adalah yield atau imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN). Karena bunga SBN menjadi landasan bunga kredit industri perbankan dalam negeri.
Baca Juga
Tumbuh 14,5%, Penyaluran Kredit BCA Capai Rp 877 Triliun di Kuartal III 2024
“Jadi ada satu floor di sini, karena kalau kita lihat dari satu segi pemerintah membutuhkan dana tentu kita akan ikut membeli, daripada suku bunga SBN, ORI, dan lain-lain, maka kita akan ikut membeli itu juga, dan ini relatively zero risk, tidak ada risiko,” ujar Jahja.
“Intinya kita akan melihat, pertama, berapa yield SBN. Kedua, dari cost of fund kita, karena pengaruh dari penurunan bunga itu tidak serta merta langsung,” lanjut dia.

