Karena Faktor Ini, Industri Asuransi Jiwa di Jepang Hadapi Risiko yang Terukur
JAKARTA, investortrust.id - Industri asuransi jiwa di Jepang menghadapi risiko kredit yang terukur atau moderat, karena alokasi mereka yang signifikan pada investasi pendapatan tetap. Mereka mengelola risiko ini dengan baik, yang tercermin dari tingginya kualitas kredit portofolio obligasi mereka.
Melansir InsuranceAsia, Jumat (28/6/2024), industri asuransi jiwa di Jepang memanfaatkan prinsip asset liability management (ALM) untuk memastikan bahwa investasi yang dilakukan selaras dengan kewajiban kontrak asuransi jangka panjang.
Kepemilikan ekuitas mereka berkisar di rentang 15%-20% dari keseluruhan investasi, ini jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan asuransi lain di Asia Pasifik atau Amerika Serikat (AS), meski ada rencana untuk mengurangi eksposur ini secara bertahap.
Baca Juga
Prudential Harap Aturan Turunan UU Perlindungan Data Pribadi untuk Asuransi Segera Terbit
Saat ini perusahaan-perusahaan asuransi jiwa di Jepang berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, mampu bertahan dalam stress investasi yang berat dan mempertahankan solvabilitasnya.
Strategi investasi perusahaan asuransi jiwa di Jepang juga bisa mengalami perubahan, dengan peralihan ke obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bond (JGB), pendekatan fleksibel terhadap investasi luar negeri, pengurangan investasi ekuitas secara sengaja, dan lainnya.
Baca Juga
Wapres: Tata Kelola dan Digitalisasi Kunci Kembangkan Asuransi Syariah
Pergeseran strategi ini dianggap positif bagi rasio solvabilitas perusahaan-perusahaan asuransi, meskipun berdampak pada kinerja operasional yang bersifat netral.

