Industri Asuransi Jiwa di India Diproyeksikan Tumbuh Hingga 13% dalam 3-5 Tahun ke Depan
JAKARTA, investortrust.id - Industri asuransi jiwa di India mencatatkan kinerja yang solid, tercermin dari premi bisnis baru yang disetahunkan atau annual premium equivalent (APE) yang tumbuh 12% secara tahunan.
Melansir InsuranceAsia, Senin (17/6/2024), perusahaan-perusahaan asuransi swasta disana bahkan mencatatkan pertumbuhan APE yang lebih tinggi, yakni 17,5% pada Mei 2024. Pertumbuhan APE secara keseluruhan ini ditopang oleh peningkatan jumlah polis individu sebesar 12,4%.
Pertumbuhan premi asuransi pada Mei tahun ini hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2023 yang hanya tumbuh 6,7%. Dalam dua tahun atau sejak Mei 2022 hingga Mei 2024, pertumbuan premi industri asuransi di India tumbuh 4,4% (compounded annual growth rate/CAGR), dengan pertumbuhan perusahaan asuransi swasta mencapai 9,1%.
Baca Juga
Inflasi Medis Juga Terjadi Pada Hewan, Perusahaan Asuransi Ini Batalkan 100.000 Polis
Perusahaan di bidang pemeringkatan kredit, analisis, konsultasi dan keberlanjutan di India, CareEdge Ratings memperkirakan prospek jangka menengah industri perasuransian di India secara keseluruhan akan tetap positif.
“Premi bisnis baru India pada tahun 2025 diproyeksikan akan bangkit kembali kepada basis yang agak lebih rendah dan pertumbuhan premi secara keseluruhan terlihat akan tetap utuh,” ujarnya.
Di mana, CareEdge Ratings memproyeksikan industri asuransi jiwa di India akan tumbuh di rentang 11%-13% dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Dengan fokus pada saluran distribusi keagenan yang dapat meningkat karena bank memprioritaskan pengumpulan simpanan dan bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bancassurance.
“Tantangan terhadap pertumbuhan ini meliputi perubahan peraturan yang mempengaruhi campuran produk, penipuan, dan potensi faktor ekonomi makro yang negatif,” ucapnya.
Baca Juga
Industri Asuransi Tiongkok Catat Kenaikan Premi 5,1% dan Lonjakan Klaim 47,8% di Kuartal I 2024
Menurut pihak CareEdge Ratings, pendorong pertumbuhan tersebut meliputi penjaminan yang menerapkan prinsip kehati-hatian, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang tinggi, urbanisasi yang pesat, permintaan akan rencana perlindungan.
Lalu, demografi yang lebih muda juga mendorong cakupan asuransi, kemudian dorongan yang kuat untuk meningkatkan cakupan asuransi khususnya di populasi pedesaan.
”Ada pula permintaan yang lebih tinggi untuk produk pensiun yang berasal dari populasi yang menua, ditambah dengan ketersediaan mekanisme jaminan sosial yang disponsori pemerintah masih rendah. Serta meningkatnya kesadaran akan perencanaan pensiun, dan infrastruktur digital yang memperkuat berbagai saluran distribusi,” katanya.

