Minyak Kembali Tembus US$ 106, Rupiah Tertekan Dekati Rp 18.000
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum mereda pada awal perdagangan Senin (28/09/2026), bersamaan dengan kembali melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat ketidakpastian penyelesaian konflik Amerika Serikat-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kombinasi harga minyak tinggi, penguatan dolar AS, dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah, menghadapi tekanan eksternal yang cukup berat.
Pada perdagangan pagi, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di Jakarta berada di kisaran Rp17.940-Rp17.957 per dolar AS, atau membuat rupiah kembali bergerak dekat level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Namun, angka kurs dapat berbeda menurut sumber dan jenis transaksi. Data mid-market Wise pada 28 September menunjukkan dolar AS sekitar Rp17.920-Rp17.923,5, sementara pasar antarbank dan kurs transaksi bank dapat menunjukkan level berbeda.
Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut setelah mata uang Indonesia melemah sepanjang pekan sebelumnya. Reuters melaporkan pada Jumat (25/09/2026), rupiah menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Mei, terutama akibat kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, serta ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama.
Sebagai pembanding resmi, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat (25/09/2026) tercatat Rp17.917 per dolar AS, melemah dibandingkan Rp17.898 pada Kamis (24/09), Rp17.803 pada Rabu (23/09), dan Rp17.883 pada Selasa (22/09). Dengan demikian, tren JISDOR selama beberapa hari terakhir juga memperlihatkan tekanan terhadap rupiah. JISDOR untuk Senin belum tersedia pada awal perdagangan pagi dan baru akan ditetapkan Bank Indonesia berdasarkan transaksi pasar hari ini.
Baca Juga
Rupiah Dibuka Melemah Terset Ekspektasi Berlanjutnya Kenaikan Suku Bunga the Fed
Tekanan terhadap rupiah pagi ini mendapatkan tambahan sentimen negatif dari pasar energi. Harga minyak mentah Brent kembali menembus US$106 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$94 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan Senin pagi bahwa Brent telah menembus US$106, sementara WTI bergerak menuju US$94 per barel.
Data perdagangan yang dikutip sejumlah media pagi menunjukkan WTI untuk pengiriman November naik 1,3% menjadi US$93,62 per barel, sedangkan Brent menguat 1,8% menjadi US$106,31 per barel pada perdagangan Senin pagi waktu Asia.
Kenaikan tersebut membalik sebagian penurunan harga minyak pada akhir pekan lalu. Pada Jumat, WTI sempat merosot 2,33% menjadi US$92,41 per barel ketika pasar berharap perundingan Washington-Teheran dapat menghasilkan kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Harapan itu kembali memudar setelah Trump menolak proposal terbaru Iran.
Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militernya dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Reuters pada 23 September melaporkan bahwa delegasi Iran di New York memiliki kewenangan untuk melakukan perundingan diplomatik dan proposal penghentian permusuhan telah disampaikan kepada Washington melalui mediator.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan jarak antara kedua pihak masih lebar. Trump mengatakan telah menolak proposal Teheran, meski perundingan diperkirakan dapat berlanjut kembali pekan ini. Ketidakpastian itulah yang membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Persoalannya, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran regional. Sebelum konflik berlangsung, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Karena itu, setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran di Hormuz dengan cepat diterjemahkan pasar menjadi risiko terhadap pasokan energi global.
Bagi Indonesia, kenaikan minyak dunia memiliki konsekuensi ganda. Indonesia merupakan importir neto minyak dan produk bahan bakar, sehingga harga minyak tinggi dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi. Pada saat bersamaan, lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi serta beban subsidi dan kompensasi energi APBN apabila kenaikan harga internasional tidak seluruhnya diteruskan kepada konsumen.
Kondisi itu juga menjelaskan mengapa pergerakan harga minyak dan rupiah belakangan semakin berkorelasi. Reuters mencatat sentimen terhadap sebagian besar mata uang emerging Asia memburuk ketika kenaikan harga minyak terjadi bersamaan dengan meningkatnya yield US Treasury. Kombinasi tersebut meningkatkan daya tarik aset dolar sekaligus memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan neraca eksternal negara-negara pengimpor energi.
Dengan Brent kembali berada di atas US$106 per barel, tekanan terhadap rupiah berpotensi tetap tinggi sepanjang pasar menilai konflik AS-Iran dan gangguan pelayaran Hormuz belum menemukan jalan keluar yang permanen. Sebaliknya, kesepakatan yang memungkinkan normalisasi arus minyak melalui Hormuz dapat menurunkan premi risiko minyak sekaligus memberikan ruang bagi mata uang negara pengimpor energi untuk menguat.
Di sisi lain, rupiah memperoleh penyangga dari kebijakan Bank Indonesia. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. BI secara eksplisit menyatakan keputusan tersebut konsisten dengan strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Bank sentral juga terus memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing serta melakukan stabilisasi nilai tukar.
Tantangan eksternal memang belum ringan. BI mencatat tekanan inflasi global meningkat akibat konflik Timur Tengah. Harga minyak bahkan sempat menyentuh US$132 per barel sebelum turun kembali di bawah US$100 pada 22 September. Pada saat bersamaan, Federal Reserve telah menaikkan Federal Funds Rate menjadi 3,75%-4,00% pada September 2026, sementara peluang kenaikan lanjutan masih terbuka. Yield US Treasury pun meningkat sejalan dengan ekspektasi kebijakan moneter AS yang tetap ketat dan besarnya defisit fiskal negara tersebut.
Dengan konfigurasi seperti itu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek kemungkinan akan sangat sensitif terhadap tiga faktor utama: arah harga minyak, perkembangan diplomasi AS-Iran terkait Selat Hormuz, serta pergerakan dolar dan yield US Treasury. Pasar juga akan mencermati konsistensi intervensi dan bauran kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga volatilitas rupiah agar tidak bergerak terlalu jauh dari fundamentalnya.
Bagi perekonomian Indonesia, level Rp17.900-an per dolar AS dan Brent di atas US$106 merupakan kombinasi yang perlu dicermati. Pelemahan rupiah membuat impor minyak dalam denominasi rupiah semakin mahal, sementara kenaikan harga minyak sendiri meningkatkan nilai tagihan impor. Jika berlangsung lama, kombinasi keduanya dapat merambat ke biaya produksi, transportasi, inflasi, kebutuhan subsidi energi, serta neraca perdagangan dan transaksi berjalan.
Karena itu, Rp18.000 per dolar AS kini menjadi level psikologis penting bagi pasar, sementara US$100 per barel menjadi batas penting di pasar minyak. Selama Brent bertahan jauh di atas US$100 dan konflik di sekitar Selat Hormuz belum memperoleh penyelesaian, tekanan eksternal terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir. Sebaliknya, normalisasi Hormuz dan meredanya harga minyak dapat menjadi katalis penting bagi pemulihan mata uang Indonesia.
