Ditanya DPR Soal Nilai Fundamental Rupiah 16.500 per dolar AS, ini Jawaban Destry Damayanti
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie OFP menanyakan nilai tukar rupiah yang fundamental ke calon gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Menurut Dolfie, nilai tukar fundamental rupiah yaitu sesuai asumsi makro APBN 2026 yang sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
“Ibu sepakat dengan pandangan itu?” kata Dolfie, di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Destry tak bisa menjawab secara pasti tentang nilai fundamental rupiah tersebut. Menurut Destry, posisi nilai tukar rupiah tergantung dengan rentang pertumbuhan ekonomi.
“Tergantung dari range. Jadi, kami [BI] memiliki range pertumbuhan ekonomi 4,9-5,7%” kata Destry.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.692, Harga Minyak Dunia Jadi Katalis
Menurut Destry, dengan kondisi yang benar-benar baik di tahun bersangkutan, fundamental nilai tukar rupiah dapat menjadi Rp 16.500 per dolar AS.
“Tapi, kan tentunya situasinya tergantung keadaan yang terjadi,” ucap Destry.
Dolfie menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang tertekan dolar AS ini menjadi tantangan Destry ketika memimpin BI. Menurutnya, Destry harus dapat mengembalikan posisi rupiah dari kisaran Rp 17.700 per dolar AS menjadi Rp 16.500 per dolar AS.
“Jadi, tantangan Ibu adalah mengembalikan [nilai tukar rupiah] dari Rp 17.700 per dolar AS itu harus kembali sesuai dengan fundamental ekonomi yaitu Rp 16.500 per dolar,” ujar Destry.
Destry menjelaskan alasan mengapa suku bunga acuan bank sentral, BI Rate, bertahan di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026.
Baca Juga
Defisit Transaksi Berjalan Membesar, Rupiah Tergelincir ke Rp 17.721 per Dolar AS
“Karena kami melihat, kita masih memiliki PR [Pekerjaan Rumah] pertumbuhan kita masih di bawah potensi levelnya,” ucap dia.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Destry mengatakan bahwa BI menggunakan sejumlah insentif untuk pendalaman pasar uang dan valuta asing.
“Karena kita memang sedang membutuhkan untuk inflow masuk, sehingga baik SRBI dan SBN juga mengalami inflow sehingga menambah supply valas di market,” kata dia.
