Rupiah Menguat di Awal Pekan ke Posisi Rp 17.978 per dolar AS.
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/8/2026). Rupiah menguat sebesar 0,24% menjadi Rp 17.978 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga tampak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,57%, rupee India menguat 0,30%, dan baht Thailand menguat 0,32%.
Sementara itu, yuan China menguat sebesar 0,03%, won Korea Selatan menguat 0,73%, dan dolar Singapura menguat 0,14%.
Baca Juga
Indonesian Rupiah Surges as Fed Pause and Central Bank Leadership Signals Boost Sentiment
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencermati indeks dolar AS (DXY) kembali menguat ke level 100,3, namun masih turun hampir 1,5% sepanjang pekan, mencatatkan kinerja mingguan terburuk dalam tiga bulan terakhir dan membawa penurunan bulanan menjadi 1,3%.
Dolar AS tertekan karena investor mempertanyakan apakah Federal Reserve telah melakukan langkah yang cukup untuk mengembalikan inflasi ke target. The Fed mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) tidak berubah untuk kelima kalinya secara berturut-turut pada pertemuan minggu ini.
Meskipun Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga, ia hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai arah kebijakan moneter hingga akhir tahun. Ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September mulai mereda, meskipun pasar masih memperkirakan sekitar dua pertiga peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.
Baca Juga
Rupiah Menguat karena Sinyal Presiden Tentang Sosok Gubernur BI Baru?
Memasuki awal Agustus, perang antara Iran dan AS masih berlanjut, sehingga tetap mempertahankan ketidakpastian terhadap harga energi global dan, pada akhirnya, prospek inflasi. Pekan ini juga akan dipenuhi berbagai rilis data ekonomi penting, yang dipimpin oleh laporan ketenagakerjaan AS, data pasar tenaga kerja JOLTS dan ADP, serta indeks PMI ISM.
Di dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global meningkat menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Februari. Aktivitas produksi kembali meningkat setelah mengalami kontraksi selama empat bulan, meskipun kenaikannya masih terbatas.
Pesanan baru juga mulai stabil setelah mengalami penurunan tajam pada Juni. Di sisi lain, penjualan ekspor masih lemah dan kembali menurun untuk bulan kelima berturut-turut.
Peningkatan beban kerja mendorong akumulasi pesanan yang belum terselesaikan ke level tertinggi sejak November 2025, sehingga perusahaan mulai menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, meskipun dalam jumlah yang terbatas. Aktivitas pembelian juga kembali menurun, namun hanya secara tipis.
