Destry Damayanti Pimpin BI Gantikan Perry Warjiyo, Tiga Variabel Penentu Arah Kebijakan Moneter dan Pasar Obligasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Transisi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian pelaku pasar setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada 25 Juli 2026, sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028. Dalam Rapat Dewan Gubernur sehari kemudian, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditetapkan sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Pergantian kepemimpinan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketidakpastian global dan masih ketatnya arah kebijakan moneter.
Destry Damayanti: Profil dan Rekam Jejak
Destry Damayanti merupakan ekonom senior dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang ekonomi, pasar keuangan, dan kebijakan publik. Sebelum bergabung dengan Bank Indonesia, ia pernah menjabat sebagai Senior Economic Adviser Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Kepala Ekonom Bank Mandiri, serta Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 74/P Tahun 2019, Destry dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2019–2024 dan kembali dipercaya menduduki jabatan tersebut untuk periode 2024–2029 melalui Keppres RI No. 74/P Tahun 2024.
Sebagai Pejabat Gubernur Sementara, Destry menegaskan Bank Indonesia akan tetap menjalankan seluruh tugas dan kewenangannya sesuai mandat. "Bank Indonesia akan selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Destry dalam konferensi pers pada 27 Juli 2026.
Transisi kepemimpinan BI berlangsung di tengah sejumlah faktor yang menjadi perhatian pasar. Pertama, BI mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21–22 Juli 2026, meski sejumlah ekonom masih memproyeksikan potensi kenaikan lanjutan hingga akhir 2026. Kedua, rupiah melemah ke Rp18.005 per dolar AS pada 27 Juli 2026 atau sekitar 8% secara year to date, sehingga stabilitas nilai tukar tetap menjadi perhatian investor. Ketiga, tarif impor AS terhadap produk Indonesia yang berlaku permanen sebesar 10% sejak 24 Juli 2026 perlu dicermati mengingat arah kebijakan tarif AS yang dinamis.
Baca Juga
Respons Destry Damayanti soal Peluang Jadi Calon Gubernur Definitif BI: Saya Jalankan Tugas
Transisi Kepemimpinan yang Perlu Dicermati Pasar
Selain arah kebijakan moneter, perhatian pasar kini juga tertuju pada proses penunjukan Gubernur BI yang baru. Sejumlah nama pengganti beredar, antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, serta Budi Gunadi Sadikin yang juga masuk dalam wacana perombakan kabinet. Namun hingga saat ini seluruh nama tersebut masih dalam pembahasan publik dan belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah.
Stefanus Dennis Winarto, Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), menilai transisi ini perlu dicermati investor, sementara arah investasi tetap akan ditentukan oleh fundamental ekonomi dan kebijakan moneter ke depan.
"Pasar tidak hanya mencermati proses penunjukan pemimpin BI berikutnya, tetapi juga bagaimana transisi kepemimpinan tersebut berlangsung. Ketidakpastian di bank sentral, di tengah rupiah yang telah melemah sekitar 8% YTD dan BI Rate yang berada di level tinggi, dapat meningkatkan premi risiko terhadap aset rupiah. Kondisi ini berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati dalam mengambil posisi hingga terdapat kejelasan mengenai arah kebijakan ke depan," ujar Stefanus.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut juga membuka peluang bagi investor yang mampu melihat potensi secara selektif. "Yield SBN tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,4%, jauh di atas level awal tahun sekitar 6,1%, telah mencerminkan premi risiko yang cukup tinggi. Pada level tersebut, instrumen obligasi menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan potensi capital gain apabila tekanan pasar mereda dan yield kembali turun seiring normalisasi kebijakan moneter ke depan," jelas Stefanus.
Baca Juga
Rapat dengan Prabowo, Destry Damayanti Sebut Belum Ada Nama Calon Gubernur BI
Strategi Investasi di Tengah Transisi Kepemimpinan BI
Di tengah ketidakpastian transisi kepemimpinan BI, Stefanus menilai pendekatan investasi yang selektif dan terukur semakin relevan.
"Reksa dana pendapatan tetap berbasis SBN tetap relevan untuk memanfaatkan yield yang masih kompetitif, reksa dana pasar uang untuk menjaga likuiditas, serta reksa dana USD sebagai diversifikasi nilai tukar sembari mencermati arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Gubernur BI yang baru. Dalam kondisi seperti ini, disiplin dalam pengelolaan risiko dan konsistensi strategi investasi tetap menjadi kunci," tutup Stefanus.
