Topang Bisnis Wealth Management, AUM Private Client Bank DBS Indonesia Naik 13%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank DBS Indonesia menorehkan kinerja pada lini bisnis wealth management mereka hingga pertengahan tahun 2026. Di tengah ketatnya perebutan dana di industri perbankan nasional, perseroan justru berhasil mencetak pertumbuhan pada dana kelolaan atau asset under management (AUM), khususnya di segmen nasabah prioritas. Hingga periode Juni 2026, segmen nasabah kaya atau private client mencatatkan lonjakan AUM sebesar 13%.
Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom mengungkapkan bahwa pencapaian ini membuktikan ketangguhan posisi perseroan dalam mengelola portofolio kelas premium tersebut.
"Untuk AUM itu kita bertumbuh 13%. Sekali lagi saya mau emphasize bahwa ini adalah private client, karena bulan juni lalu kita spesifik untuk treasures which is priority segment," ujar Melfrida dalam acara DBS Insights Forum 2026: Berbagi Lintas Perspektif untuk Hadapi Dunia yang Semakin Multipolar di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga
Optimisme Akhir Tahun: DBS Proyeksikan IHSG Mampu Menembus Level 8.000
Keberhasilan menggemukkan dana kelolaan ini terbilang luar biasa mengingat industri perbankan Tanah Air yang tengah dibayangi oleh tantangan likuiditas yang ketat. Keterbatasan likuiditas di pasar secara umum membuat perbankan harus memutar otak lebih keras dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sekaligus memacu pertumbuhan aset investasi nasabah. Namun, DBS Indonesia mampu membalikkan tantangan tersebut menjadi peluang, terbukti dengan kenaikan rata-rata dana kelolaan per nasabah yang melonjak hingga 15% pada periode yang sama.
"Untuk total AUM per customer itu kita juga melihat pertumbuhan yang sehat, meskipun di tahun 2025-2026 itu challenge kita salah satunya adalah DPK. Karena likuiditas itu sangat ketat, kita jadi sama-sama dengan bank-bank lain juga untuk meningkatkan AUM kita, menambah jumlah customer," ungkap Melfrida.
Bukan hanya volume dana kelolaan saja yang meroket, dari sisi profitabilitas, lini bisnis wealth management DBS Indonesia juga tampil prima. Pendapatan total dari bisnis ini membukukan pertumbuhan sebesar 34% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Baca Juga
Akselerasi pendapatan ini utamanya disokong oleh performa solid dari pendapatan berbasis komisi atau fee-based income produk investasi serta asuransi. Secara spesifik, pertumbuhan komisi dari produk investasi menyumbang porsi terbesar dari total kenaikan pendapatan tersebut.
"Jadi growth-nya (fee income dari investasi) itu sekitar 65%, kontribusi terhadap 34% kenaikan total income," kata Melfrida.
Pertumbuhan pendapatan yang masif ini pada akhirnya mengerek laba bersih setelah pajak (net profit after tax) di segmen wealth management sebesar 24%. Hasil positif ini dicapai di tengah riak ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda. Sepanjang tahun 2025, sektor finansial telah diuji oleh dampak konflik geopolitik, dan tensi politik global terpantau masih tetap tinggi memasuki pertengahan 2026 ini.
Menyiasati situasi makro yang menantang, DBS Indonesia menerapkan strategi diferensiasi melalui layanan investasi yang dipersonalisasi penuh. Setiap produk dan penempatan aset disesuaikan secara cermat dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta ekspektasi spesifik dari masing-masing individu.
"Ada customization. Customization adalah setiap individu punya masing-masing interest-nya, punya masing-masing aspirasi untuk financial, dan juga punya masing-masing risk profile," tutur Melfrida.
Dalam mengeksekusi strategi personalisasi ini, DBS Indonesia mengombinasikan kekuatan analisis global dari Chief Investment Office (CIO) DBS Group dengan dinamika ekonomi domestik. Melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI), data analisis tersebut diolah untuk kemudian diterjemahkan oleh para Relationship Manager (RM) profesional menjadi rekomendasi taktis yang aplikatif bagi nasabah.
"Kami berusaha untuk juga mengawinkan apa sih yang ada di sana lewat AI. Informasi yang kita dapatkan terus kita mengawinkan dengan insights, terus bagaimana RM di sini pentingnya RM adalah menerjemahkan itu ke dalam bahasa yang bisa dipersonalisasikan ke masing-masing individu," jelas Melfrida.

