Lebih dari Sekadar China, Ini 4 Pilar Utama yang Jadikan Asia Magnet Investasi Masa Depa
JAKARTA, investortrust.id - Kawasan Asia kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi investasi global yang sangat atraktif. Karakteristik kawasan yang sangat beragam (diverse) dan tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi China, menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk jangka waktu 3 hingga 5 tahun ke depan.
Chief Economist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengungkapkan bahwa Asia menawarkan karakter serta peluang unik yang terangkum dalam empat tema strategis besar. Keempat pilar tersebut meliputi revolusi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), transisi energi, kekuatan ekonomi berbasis domestik, serta strategi diversifikasi manufaktur “China Plus One”.
Menurut Katarina, Asia sebetulnya merupakan fondasi dasar dari revolusi AI dunia. Meskipun desain dan permintaan utama datang dari Amerika Serikat, seperti inovasi chip dari Nvidia dan AMD serta kebutuhan dari korporasi skala raksasa (hyperscalers), Asia memegang peranan krusial dalam rantai pasok perangkat kerasnya.
Baca Juga
Tak Lagi Hanya Saham Teknologi, Manulife Lihat Peluang Baru di Pasar Saham Global
Belanja modal (capex) dari enam raksasa teknologi dunia (Amazon, Google, Meta, Microsoft, Oracle, dan Apple) diproyeksikan tumbuh secara akumulatif (CAGR) di atas 49,4% per tahun dari tahun 2024 hingga 2027. Siklus ini menempatkan Korea Selatan dan Taiwan sebagai pemenang utama di sektor teknologi dan AI global.
"Foundry chip canggih di bawah 7 nanometer yang sangat diperlukan AI, lebih dari 90% nya diproduksi oleh TSMC di Taiwan. Sementara untuk memori, Korea Selatan memimpin pasar global dengan SK Hynix dan Samsung yang menguasai lebih dari 92% pangsa pasar High Bandwidth Memory (HBM). Asia adalah fondasi riil dari revolusi digital ini," jelas Katarina dalam acara DBS Insights Forum 2026:
Berbagi Lintas Perspektif untuk Hadapi Dunia yang Semakin Multipolar di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Selain itu, Jepang unggul dalam penyediaan alat presisi (precision tools) untuk chip AI, sedangkan China memproduksi sekitar 82% kebutuhan silikon global pada periode 2024–2025. Di sisi lain, kawasan ASEAN bersama China terbukti menjadi hub integrasi perangkat keras AI karena didukung ekosistem manufaktur yang berpengalaman, logistik efektif, dan tenaga kerja yang kompetitif.
Baca Juga
Danamon, Prasmul, dan Manulife Luncurkan Ekosistem Perencanaan Pendidikan Anak
Tema besar kedua yang menjadi pembeda Asia adalah agresivitas dalam transisi energi baru terbarukan (EBT) dan elektrifikasi. Di sektor ini, rantai pasok global sangat bergantung pada wilayah Asia-Pasifik. Komponen utama bahan baku baterai litium-ion didominasi oleh negara-negara Asia.
Australia dan China menguasai 54% produksi litium dunia. Untuk bahan baku penting lainnya seperti kobalt, tembaga, dan bauksit-grafit, posisi strategis ditempati oleh Indonesia, Filipina, Australia, dan China. Bahkan, China menguasai hampir 99% kapasitas pemurnian galium, mineral langka yang sangat kritis bagi pengembangan teknologi masa depan dan AI.
Sementara itu, untuk infrastruktur pendukung, Korea Selatan memiliki keunggulan kompetitif yang kuat pada komponen transformator tegangan tinggi (high voltage transformer) melalui korporasi besar seperti Hyundai Electric.
Menanggapi dinamika geopolitik global, Katarina menilai Indonesia berada dalam posisi yang menguntungkan karena memiliki fundamental ekonomi berbasis domestik yang kuat. Karakteristik ini membuat Indonesia cenderung lebih terinsulasi dari gejolak eksternal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia yang rasio PDB-nya sangat bergantung pada ekspor hingga di atas 100%.
Populasinya yang besar, struktur demografi yang relatif muda, serta pertumbuhan kelas menengah yang pesat didukung oleh kebijakan pemerintah yang fokus memperkuat daya beli domestik, menjadi modal utama pertumbuhan jangka panjang. Lebih lanjut, Indonesia tidak hanya tangguh di dalam negeri tetapi juga memegang peran strategis global sebagai produsen komoditas mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit. Langkah hilirisasi yang diterapkan pemerintah dinilai sebagai strategi tepat guna meningkatkan nilai tambah komoditas di tengah tren elektrifikasi global.
"Peran Indonesia sebetulnya sangat penting. Ke depan, potensi besar ini dapat diakselerasi lebih jauh melalui kebijakan pemerintah yang terarah, baik dalam menjaga stabilitas konsumsi domestik maupun memperkuat hilirisasi yang mendukung ekosistem energi baru terbarukan," pungkas Katarina.
