Ada Inflasi Medis dan Rupiah Kian Melemah, Asuransi Astra Tetap Optimistis Lini Bisnis Kesehatannya Tumbuh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan tingginya inflasi medis menjadi tantangan utama bagi industri asuransi kesehatan pada tahun ini. Kendati demikian, Asuransi Astra optimistis bisnis asuransi kesehatan masih dapat tumbuh.
Technical and Operation Director Asuransi Astra Mulia KB Siregar mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya layanan kesehatan karena banyak alat kesehatan dan obat-obatan yang masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut mendorong kenaikan klaim asuransi kesehatan.
"Kami tidak menafikan bahwa kemungkinan klaim asuransi kesehatan akan naik karena banyak medical equipment dan obat-obatan yang masih impor. Ketika rupiah melemah, biaya layanan kesehatan juga menjadi lebih mahal," ujar Mulia dalam Media Conference #TujuhDekadeAsuransiAstra, di kantor barunya di Arumaya Financial Center, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Meski demikian, Asuransi Astra menegaskan tidak akan membatalkan polis yang sedang berjalan hanya karena terjadi peningkatan klaim. Menurut Mulia, perusahaan tetap berkomitmen memberikan perlindungan hingga masa polis berakhir sebagai bagian dari prinsip customer first yang dipegang perusahaan.
"Asuransi Astra tidak akan pernah meng-cancel polis di tengah jalan semata-mata karena klaim meningkat. Kami tetap memberikan rasa aman kepada pelanggan," katanya.
Baca Juga
Asuransi Astra Kasih Tips Antisipasi Banjir dan Ingatkan Pentingnya Proteksi
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, perusahaan akan melakukan evaluasi terhadap setiap polis yang memasuki masa perpanjangan (renewal). Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyesuaian tarif premi maupun strategi underwriting ke depan.
Mulia menjelaskan, perusahaan memiliki sejumlah instrumen untuk mengendalikan risiko klaim, di antaranya penerapan skema co-payment atau pembagian biaya antara peserta dan perusahaan asuransi. Selain itu, perusahaan juga dapat mengembangkan produk yang mengatur pilihan rumah sakit berdasarkan tingkat efisiensi biaya layanan.
"Implementasi co-payment dapat memengaruhi perilaku berobat peserta. Demikian juga pengaturan jaringan rumah sakit dapat membantu mengendalikan biaya. Ada banyak instrumen yang bisa digunakan untuk menyesuaikan pricing agar klaim tetap sesuai dengan perhitungan," ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Presiden Direktur Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus menilai, prospek bisnis asuransi kesehatan masih sangat menjanjikan. Menurut dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan justru menjadi faktor pendorong pertumbuhan industri.
"Kebutuhan asuransi kesehatan masih sangat besar, terutama sebagai employee benefit yang diberikan perusahaan kepada karyawannya. Karena itu kami masih optimistis dapat terus bertumbuh," kata Maximiliaan.
Ia mengakui inflasi medis yang tinggi memang meningkatkan tekanan terhadap profitabilitas perusahaan asuransi. Namun, di sisi lain kondisi tersebut juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dan perusahaan terhadap pentingnya perlindungan kesehatan.
"Tantangannya memang klaim kesehatan merupakan salah satu yang tertinggi. Karena itu kami harus menjaga profitabilitas dengan baik. Namun kami tetap berupaya untuk tumbuh dibandingkan tahun lalu," ujarnya.
Baca Juga
Senada, Marketing Commercial & Health Business Director Asuransi Astra Indah Octavia mengatakan, inflasi medis di Indonesia saat ini diperkirakan berada di kisaran 16%-17% per tahun. Tingginya inflasi medis tersebut terjadi seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Menurut Indah, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan untuk terus berinovasi, baik dari sisi manfaat perlindungan, cakupan produk, maupun kualitas layanan.
"Asuransi kesehatan memiliki potensi yang besar karena employee benefit merupakan kebutuhan yang fundamental bagi perusahaan dalam menjaga kesejahteraan karyawan. Tantangannya adalah inflasi medis yang tinggi, tetapi itu juga menjadi peluang bagi kami untuk terus berinovasi," katanya.
Sebagai strategi menghadapi tekanan biaya kesehatan, Asuransi Astra terus memperkuat kerja sama dengan jaringan penyedia layanan kesehatan serta mengembangkan berbagai layanan berbasis digital guna meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kepada nasabah.
Dengan kombinasi inovasi produk, penguatan layanan digital, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin, perusahaan meyakini bisnis asuransi kesehatan masih memiliki ruang pertumbuhan yang kuat meski dibayangi pelemahan rupiah dan tingginya inflasi medis.

