Rupiah Melemah Lagi Saat Cuti Bersama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tekanan terhadap rupiah tak ada libur. Meski terdapat cuti bersama bagi sebagian besar perkantoran, pada Kamis (28/5/2026) rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada sesi pembukaan pukul 09.00 WIB, versi Bloomberg, rupiah longsor 0,3% ke posisi Rp 17.855 per dolar AS. Pelemahan terus berlanjut hingga Rp 17.860 atau terdepresiasi 0,30% pada pukul 10.10 WIB.
Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah pagi ini karena berita penyerangan terbaru AS ke Iran. Kondisi ini memperumit prospek dan harapan terhadap perdamaian di Teluk Persia.
“Sedangkan kenaikan suku bunga dipandang telat,” kata Lukman, kepada investortrust.id.
Baca Juga
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Terkapar di Rp 17.768 per Dolar AS
Lukman mengatakan harga minyak yang tinggi, ekspektasi inflasi, dan tingkat suku bunga global yang tinggi mempengaruhi pelemahan rupiah. Kondisi ini seolah mengabaikan kondisi fundamental Indonesia yang baik, menurut pemerintah.
“Selain itu secara domestik, permintaan dolar AS secara musiman yang tinggi, sell off di pasar ekuitas dan kekhwatiran defisit anggaran juga membebani [rupiah]” jelas dia.
Pelemahan mata uang memang masih mengintai sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang juga terpantau melemah 0,02%, yuan China ikut terdepresiasi 0,06%, sedangkan ringgit Malaysia melemah 0,46%.
Peso Filipina dan dolar Singapura juga terkoreksi masing-masing, 0,14%. Rupee India melemah 0,01% dan baht Tailan melemah 0,18%.
Baca Juga
Situasi yang tak menentu di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia naik. Data Investing menunjukkan harga minyak mentah versi WTI naik 3,48% pada pukul 10.33 WIB ke posisi US$ 91,79 per barel. Sementara itu, versi Brent, harga minyak naik 3,37% ke US$ 95,35 per barel.
Dari sisi pasar obligasi negara, dipantau dari Investing, US Treasury 10 tahun bergerak menguat 0,89% pada pukul 10.25 WIB menjadi 4,51%. Ini mendorong penguatan indeks dolar AS ke level 99,42.
Di dalam negeri, per 26 Mei 2026, tercatat imbal hasil SBN 10 tahun juga bergerak naik 0,21% menjadi 6,7%. Saat ini pasar obligasi mengalami penutupan karena libur bersama.

