Rupiah Akan Kembali Menguat di Paruh II 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Nilai tukar rupiah yang saat ini sedang terdepresiasi ke level Rp 17.500 per dolar AS berpeluang kembali menguat pada paruh kedua 2026 seiring meredanya tekanan global dan stabilisasi pasar keuangan internasional. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan.
Office of Chief Economist Group BRI dalam Weekly Economic Update W1 Mei 2026 yang dirilis di Jakarta, Senin (11/05/2026), menyebut tekanan terhadap rupiah masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia, meskipun inflasi domestik sudah kembali terkendali di kisaran target BI.
Dalam proyeksi OCE BRI, rupiah masih berpotensi melemah hingga menembus Rp 17.500 per dolar AS sebelum kembali stabil. Namun, model tersebut juga menunjukkan peluang penguatan rupiah pada paruh kedua 2026, dengan proyeksi kurs rata-rata bergerak kembali ke kisaran Rp16.959 per dolar AS pada akhir tahun.
Indeks dolar AS melemah 0,26% menjadi 97,90 pada pekan pertama Mei 2026. Mayoritas mata uang emerging markets menguat, tetapi rupiah justru melemah 0,12% menjadi Rp17.353 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga diikuti kenaikan NDF di seluruh tenor, menandakan tekanan depresiasi masih persisten. Kondisi ini membuat BI perlu tetap melakukan stabilisasi nilai tukar secara terukur.
BRI mencatat data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan sinyal campuran. Beberapa indikator tetap solid, terutama tingkat pengangguran yang bertahan di 4,3% pada April 2026, kenaikan factory orders, serta pertumbuhan wholesale trade sales. Namun, sejumlah indikator utama mulai melemah, seperti perlambatan PMI Jasa ISM dan penurunan sentimen konsumen.
Baca Juga
BI Rate Diprediksi Naik ke 5% di Semester I 2026 demi Jaga Rupiah
Momentum penciptaan lapangan kerja juga mulai termoderasi. Penambahan non farm payrolls turun menjadi 115 ribu orang pada April 2026 dari 185 ribu orang pada bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke 61,8%, melanjutkan tren penurunan sejak November 2025.
Meski ada tanda moderasi ekonomi, pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75% sepanjang 2026. Sikap The Fed dinilai masih hawkish, meskipun intensitas komunikasinya mulai lebih moderat dibanding akhir April.
Di sisi lain, ekonomi China menunjukkan aktivitas produksi yang tetap kuat. PMI Composite dan PMI Jasa meningkat, sementara cadangan devisa China naik pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan ketahanan sektor eksternal dan domestik China masih cukup baik di tengah ketidakpastian global.
PDB Q1 Melaju 5,61%
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia naik signifikan menjadi 5,61% year on year pada kuartal I-2026, dari 5,39% pada kuartal IV-2025. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, dengan kontribusi 2,94 poin persentase terhadap PDB. Namun, BRI menilai pemulihan konsumsi masih lebih banyak ditopang kelas menengah atas. Konsumsi barang diskresioner seperti transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel tumbuh lebih kuat dibanding konsumsi barang esensial.
Indeks daya beli seluruh kelas ekonomi membaik pada kuartal I-2026, tetapi pemulihan kelas bawah dan menengah masih terbatas. Daya beli kelas atas sudah mendekati level normal, sementara kelas bawah dan menengah masih berada di bawah rata-rata historis.
Inflasi Melandai ke 2,42%
Inflasi Indonesia turun ke 2,42% year on year pada April 2026 dari 3,48% pada Maret 2026. Penurunan ini terutama dipengaruhi hilangnya efek low base tahun sebelumnya dan normalisasi harga pangan setelah Idul Fitri.
Inflasi inti stabil di kisaran 2,4%, menunjukkan permintaan domestik masih terjaga tetapi belum menimbulkan tekanan berlebih. Struktur inflasi juga dinilai lebih sehat karena kontribusi komponen volatile food dan administered prices mulai menurun.
Namun, risiko tekanan harga dari energi dan harga yang diatur pemerintah tetap perlu diwaspadai, terutama jika konflik Timur Tengah kembali memanas.
Baca Juga
Menahan Suku Bunga
Dengan inflasi yang terkendali, ruang pelonggaran moneter sebenarnya mulai terbuka. Namun, tekanan rupiah membuat Bank Indonesia diperkirakan tetap berhati-hati.
Model OCE BRI menunjukkan probabilitas BI menahan suku bunga pada RDG Mei 2026 mencapai 57,6%. Peluang kenaikan suku bunga masih cukup besar, yakni 41,3%, sedangkan peluang penurunan hanya 1,2%.
Artinya, BI masih berada dalam dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar atau memberi dukungan lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi. Untuk saat ini, stabilitas rupiah masih menjadi prioritas utama.
APBN Defisit Lebih Dalam
Dari sisi fiskal, defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% dari PDB. Angka ini meningkat signifikan dibanding defisit Rp99,8 triliun atau 0,41% PDB pada periode yang sama tahun lalu.
Defisit tersebut menjadi defisit bulan Maret terdalam sejak 2017. Pelebaran defisit terjadi karena akselerasi belanja pemerintah pada awal tahun belum sepenuhnya diimbangi penerimaan negara.
Belanja negara mencapai Rp815 triliun, tumbuh 31,4% year on year, sementara pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, tumbuh 10,5%. Strategi front loading belanja pemerintah dinilai mampu menopang aktivitas ekonomi jangka pendek, tetapi tetap perlu diimbangi penguatan penerimaan agar ruang fiskal tidak menyempit.
Realisasi penerimaan pajak neto mencapai Rp394,8 triliun hingga Maret 2026, tumbuh 20,7% year-on-year. Kenaikan terutama ditopang PPN dan PPnBM yang melonjak 57,7% menjadi Rp155,6 triliun.
Momentum Ramadan dan Idul Fitri ikut mendorong aktivitas transaksi masyarakat. Pertumbuhan PPh Orang Pribadi dan PPh 21 yang dua digit juga menunjukkan adanya dorongan dari pembayaran THR dan aktivitas tenaga kerja formal.
Neraca Perdagangan Surplus
Surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat menjadi US$3,32 miliar pada Maret 2026 dari US$1,27 miliar pada Februari 2026. Surplus ini ditopang kenaikan surplus nonmigas menjadi US$5,21 miliar.
Namun, defisit migas melebar menjadi US$1,89 miliar akibat lonjakan impor migas sebesar 58,5% month-to-month menjadi US$3,17 miliar. Kenaikan impor minyak dipengaruhi harga minyak dunia yang meningkat akibat konflik Timur Tengah.
Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$146,2 miliar pada April 2026 dari US$148,2 miliar pada Maret. Penurunan terutama dipengaruhi kebutuhan stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Meski turun, posisi cadangan devisa masih setara 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor.
SRBI, Instrumen Stabilisasi
Volatilitas pasar obligasi global menurun pada pekan pertama Mei 2026, didukung optimisme pasar terhadap prospek perdamaian AS-Iran. Indeks MOVE turun 3,16 poin menjadi 67,25, sementara persepsi risiko investasi mayoritas negara juga menurun.
Emerging markets mencatat net portfolio inflow sebesar US$10,98 miliar, berbalik dari outflow US$10,62 miliar pada pekan sebelumnya. Namun, BRI mengingatkan arus modal ke pasar berkembang masih berisiko tertahan karena ketegangan Timur Tengah kembali meningkat setelah AS menolak proposal Iran pada 11 Mei 2026.
IHSG menguat tipis 0,18% ke level 6.969 pada pekan pertama Mei 2026. Investor asing mencatat net portfolio inflow signifikan sebesar Rp12,27 triliun, berbalik dari arus keluar selama tujuh pekan beruntun.
Namun, penguatan IHSG tertahan pelemahan mayoritas sektor, terutama transportasi dan logistik, energi, serta bahan baku. Tekanan dipicu kekhawatiran pasar terhadap rencana kenaikan tarif royalti tambang dan wacana windfall tax bagi perusahaan komoditas.
Di pasar obligasi, yield SBN turun di seluruh tenor, terutama tenor 5 tahun dan 10 tahun. Penurunan didukung turunnya CDS 5 tahun Indonesia sebesar 7,71 bps menjadi 83,74 serta data ekonomi domestik yang solid.
Bank Indonesia terus mengoptimalkan operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Yield SRBI naik signifikan di seluruh tenor dan menarik net portfolio inflow asing sebesar Rp13,99 triliun pada pekan pertama Mei 2026.
Namun, ruang penguatan rupiah masih terbatas. Karena itu, kebijakan stabilisasi melalui SRBI dan intervensi pasar tetap perlu dioptimalkan.
Harga minyak Brent turun 6,4% secara mingguan menjadi US$101,3 per barel, dipicu optimisme pasar terhadap proposal perdamaian AS-Iran. Namun, penurunan lebih lanjut berpotensi tertahan karena AS menolak proposal balasan Iran pada 11 Mei 2026.
Sementara itu, harga emas naik 2,2% menjadi US$4.715,3 per troy ounce, seiring penurunan yield obligasi global yang menurunkan opportunity cost memegang aset non yielding.
Implikasi bagi Perbankan
BRI menilai perbankan perlu tetap mencermati tiga risiko utama. Pertama, risiko pasar masih tinggi karena ketidakpastian geopolitik dapat menjaga volatilitas rupiah dan yield SBN. Kedua, ruang penurunan cost of fund masih terbatas karena BI belum leluasa melonggarkan kebijakan moneter. Ketiga, permintaan kredit berpotensi tertopang belanja pemerintah, tetapi ekspansi tetap harus selektif karena ruang fiskal berisiko menyempit.
Dengan kombinasi tersebut, rupiah memang masih berada dalam tekanan jangka pendek. Namun, jika tensi global mereda, pasar keuangan internasional stabil, dan fundamental domestik tetap solid, peluang penguatan rupiah pada paruh kedua 2026 terbuka kembali.

