Peran Perempuan Menguat, OJK Soroti Tantangan Integritas dan Dukungan Sistem
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Peran perempuan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan di berbagai sektor, mulai dari dunia kerja hingga birokrasi. Namun di balik capaian tersebut, tantangan terkait integritas, perlindungan, dan dukungan sistem masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.
Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) OJK Sophia Wattimena mengungkapkan, perempuan kini mengambil porsi besar dalam pembangunan nasional. Di mana, perempuan mencapai hampir separuh populasi Indonesia dan parsitipasinya dalam angkatan kerja mencapai 57%.
“Kontribusinya juga semakin nyata. Sebagai contoh di birokrasi, sekitar 57% ASN (aparatur sipil negara) itu perempuan,” ujarnya, dalam acara Peringatan Hari Kartini 2026, Senin (20/4/2026).
Baca Juga
OJK Tetapkan Status Pengawasan terhadap Pindar Bermasalah, 2 Penyelenggara Kembalikan Izin Usaha
Meski begitu, Sophia menyoroti masih besarnya tantangan yang dihadapi perempuan, terutama terkait kekerasan berbasis gender dan beban ganda. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan berbasis gender, dengan sekitar 80% korban adalah perempuan.
“Selain itu, sekitar 46% perempuan masih menghadapi beban ganda sebagai pengelola rumah tambah sekaligus sebagai pencari nafkah utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan peran perempuan belum sepenuhnya diiringi dengan sistem dukungan yang memadai,” katanya.
Dalam situasi tersebut, lanjut Sophia. Perempuan tidak hanya dituntut berdaya, tapi juga harus mampu mengambil keputusan strategis. Di sinilah nilai kemanusiaan dan integritas menjadi sangat penting.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa berbagai studi menunjukkan korelasi antara tingginya representasi perempuan dalam pemerintahan dengan rendahnya persepsi korupsi, terutama dalam sistem yang memiliki akuntabilitas kuat.
“Hal ini tercermin dari skor Corruption Index dan Gender Gap Index yang tinggi, yang umumnya menunjukkan kualitas tata kelola yang lebih baik jika pemimpinnya adalah perempuan,” ucap Sophia.
Baca Juga
OJK Soroti Peluang Besar Asuransi Hewan Peliharaan di Indonesia
Namun, kondisi Indonesia masih menunjukkan ruang perbaikan. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia saat ini berada di angka 34, di bawah rata-rata global. Sementara itu, peringkat Gender Gap Index Indonesia berada di posisi 97.
“Menunjukkan masih adanya ruang perbaikan dalam kesetaraan. Tentunya hal-hal ini bisa menjadi refleksi bagi kita di Indonesia,” kata Sophia.
Ia juga menyoroti hasil Survei Penilaian Integritas Nasional 2025 yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan skor 72,32 yang menempatkan Indonesia dalam kategori rentan terhadap korupsi.
“Ini tentunya menjadi (homework kita bersama bagaimana kita memitigasi hal-hal ini,” ujar Sophia.

