Charity Dinilai Tak Cukup Atasi Kemiskinan Struktural, Farid Gaban: Perlu Bangun 'Social Capital'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Jurnalis senior dan aktivis Farid Gaban menegaskan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia tidak akan tuntas hanya melalui pendekatan amal (charity). Hal tersebut disampaikan Farid dalam bedah buku Reset Indonesia yang digelar Dompet Dhuafa, Jakarta, Kamis (30/11/2025).
"Menurut saya, pemberdayaan ke depan tidak cukup hanya charity, karena charity tidak akan menyelesaikan masalah yang struktural," kata Farid.
Farid menekankan perlunya pemberdayaan masyarakat yang lebih mendalam. Menurutnya pemberdayaan yang ideal, harus mencakup aspek politik, sosial, dan ekonomi.
Farid kemudian menyoroti rendahnya modal sosial (social capital) di Indonesia. Ia bahkan menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di bawah Sri Lanka.
Baca Juga
Dompet Dhuafa Gulirkan Youth Expression Festival 2025, Sasar 110 Anak Yatim Unjuk Kreativitas
Ia menilai upaya penanggulangan kemiskinan perlu juga dialihkan pada perbaikan sistem dan pembangunan modal sosial (social capital) yang kuat di tengah masyarakat. Modal sosial yang rendah membuat masyarakat kesulitan untuk menghadapi tantangan besar.
"Kalau bekerja sendiri-sendiri saya enggak akan sanggup, tapi kalau bersama-sama saya akan lebih kuat menghadapi politisi dan pengusaha nakal," jelasnya.
Farid Gaban mengusulkan koperasi sebagai solusi untuk membangun modal sosial. Baginya, koperasi yang dijalankan dengan benar tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga membangun tradisi politik karena harus dikelola secara demokratis dan melibatkan partisipasi anggotanya.
"Koperasi yang benar itu lembaga politik, lembaga ekonomi, lembaga sosial sekaligus. Itu yang membuat orang lebih punya daya tawar. Kapasitas untuk berorganisasi itu salah satu yang penting," tuturnya.

