PLTS Masuk Kampung, Pertamina Bangun Masa Depan Malasigi Papua dari Energi Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina EP Papua Field bermitra dengan warga kampung adat Malasigi, distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat menghadirkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini mengenalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendorong peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan di pedesaan.
"Melalui bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pelatihan dari Pertamina, kami mengolah air sungai menjadi air bersih. PLTS menggerakkan pompa untuk mengalirkan sumber mata air yang berjarak 800 meter dari lokasi penyaringan, sehingga masyarakat bisa mendapat air bersih sekitar 15 liter per 2 hari," ujar Absalom, Absalom Dominggus Kalami, warga Kampung Adat Malasigi dalam keterangannya, Selasa (5/8/2025).
Baca Juga
Viral Pertalite Campur Solar, Pertamina Langsung ‘Semprit’ SPBU di Kembangan Jakbar
Melalui program DEB Pertamina, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe mengelola aktivitas Kampung Malasigi yang terintegrasi dengan unit usaha lain, seperti bird watching dalam ekowisata minat khusus, perkebunan agroforestry, pengolahan keripik pisang, dan anyaman noken Belempe.
"Penggunaan PLTS berkapasitas 8,7 kwp dengan baterai 10 kwh, dapat mengurangi beban biaya kebutuhan air bersih sekitar Rp 36 juta per tahun dengan menggunakan pompa air elektrik yang lebih rendah karbon, serta dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat," ungkap Absalom.
Selain menghemat biaya, pemanfaatkan PLTS mampu menurunkan emisi karbon hingga 9,022 ton CO2eq. Dampaknya, program DEB mendorong lahirnya usaha baru warga, yaitu noken, kripik pisang, dan ekowisata.
Baca Juga
Sri Wana Lestari, Program Perhutanan Sosial Pertamina yang Tekan Kemiskinan dan Hidupkan Alam
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan, Desa Energi Berdikari memberikan solusi energi terbarukan untuk membangun kemandirian pedesaan.
"Saat ini, terdapat 173 program DEB yang berjalan dan tersebar di seluruh Indonesia, sekitar 70% berada di luar pulau Jawa sebagai upaya pemerataan pembangunan hingga ke pelosok negeri," jelas Fadjar.
Dari 173 program yang sudah berjalan, 45 DEB sudah masuk dalam tahap mandiri. Di kampung adat Malasigi, salah satu kriterianya diukur dengan kepuasan masyarakat dan amplifikasinya, yaitu tingkat kepuasan masyarakat mencapai 90%.
"Terdapat 40 individu penerima manfaat langsung dan 200 individu penerima manfaat tidak langsung, memiliki 8 publikasi program serta menerima 6 penghargaan," kata Fadjar.

