Greenomina, Aplikasi Hijau Pertamina yang Hitung Emisi dan Buka Jalan ke Ekonomi Rendah Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina (Persero) terus mengembangkan Greenomina, aplikasi yang dirancang untuk menghitung emisi karbondioksida, serapan emisi, serta memfasilitasi perdagangan emisi karbon (carbon trading).
Melalui Greenomina, Pertamina membangun ekosistem masyarakat yang sadar lingkungan. Aplikasi ini juga bisa melakukan perhitungan emisi dari penumpang pesawat dan mengimbangi emisinya masing-masing. Selain itu, pelari pada ajang Pertamina Eco RunFest juga bisa memperhitungkan emisinya untuk dikonversi menjadi bebas karbon. Langkah ini memperluas ekosistem dekarbonisasi dari internal dan eksternal, serta memperkuat posisi Pertamina sebagai kontributor aktif dalam ekonomi karbon.
Baca Juga
Pasok LPG, Pertamina Dukung 80.000 Koperasi Merah Putih yang Siap Guncang Ekonomi Desa
“Transformasi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar fosil dengan energi baru terbarukan (EBT), tetapi soal mengubah perilaku, kesadaran, dan budaya perusahaan maupun masyarakat. Greenomina adalah alat sekaligus gerakan untuk mendekatkan isu iklim ke kehidupan sehari-hari,” ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso dalam keterangannya, Selasa (22/7/2025).
Greenomina, singkatan dari green and net zero emission Pertamina, merupakan aplikasi kalkulasi emisi karbon yang dikembangkan empat perwira muda Pertamina. Aplikasi ini telah memenangkan Biznovation pada akhir 2022, serta juara dua pada ajang Gagasan Eco BUMN 2024 yang diselenggarakan Kementerian BUMN. Aplikasi ini memungkinkan individu dan institusi menghitung emisi karbon dari berbagai aktivitas, seperti perjalanan, penginapan, penggunaan listrik dan air, konsumsi makanan, hingga limbah, yang kemudian dapat dikompensasi dengan skema kredit karbon.
Emisi karbon, atau lebih tepatnya emisi karbon dioksida (CO₂), merupakan gas rumah kaca utama yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti transportasi, konsumsi listrik, produksi makanan, dan lainnya. Emisi ini berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim, karena menumpuk di atmosfer dan memerangkap panas bumi.
“Menghitung emisi karbon dari aktivitas yang kita lakukan menjadi hal penting, untuk memahami jejak lingkungan yang kita tinggalkan. Lebih penting lagi, agar kita bisa berkontribusi untuk mengurangi emisi atau mengimbanginya dengan memperdagangkan emisi karbon yang kita hasilkan, kepada pihak lain yang tidak memiliki emisi, atau disebut sebagai kredit karbon,” jelas Fadjar.
Sejak Januari 2025, Greenomina telah digunakan untuk program carbon neutral business trip Pertamina, yakni perhitungan emisi dari aktivitas perjalanan dinas pekerja Pertamina. Hingga kini, lebih 10.000 perjalanan dinas telah diukur emisinya lewat aplikasi ini. Selain itu, keterlibatan karyawan secara aktif memperkuat permintaan karbon internal dan membuka jalan bagi pemasaran kredit karbon dari proyek energi terbarukan seperti geotermal.
Selain itu, pada berbagai acara, seperti Pertamina Eco RunFest 2024 ajang lari karbon netral (carbon neutral) pertama di Indonesia yang diikuti 21.000 peserta. Dengan bantuan Greenomina, seluruh jejak emisi dari acara Pertamina Eco Runfest 2024, mulai transportasi hingga konsumsi makanan para pelari dan pengunjung festival, dihitung dan dikompensasi secara ilmiah dan transparan.
Greenomina juga telah mendukung penerbangan perdana Pelita Air untuk rute perdana Jakarta–Banjarmasin pada November 2023, menjadi penerbangan carbon-neutral pertama di Indonesia. Selain itu, aplikasi ini tengah dijajaki untuk kolaborasi bersama sektor perhotelan dan pariwisata, seperti Patra Jasa untuk mewujudkan periode berlibur dan menginap dengan konsep carbon-neutral di berbagai destinasi nasional.
Baca Juga
'Go' Digital, Teknologi ArcGIS Pertamina Bikin Urusan Perizinan Jadi Super-Cepat dan Efisien
Keunggulan Greenomina terletak pada pendekatannya yang praktis, terbuka, dan berbasis standar global. Perhitungan emisi karbon menggunakan referensi dari lembaga internasional, seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), International Civil Aviation Organization (ICAO), dan International Air Transport Association (IATA), dan terverifikasi secara ilmiah oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Fadjar berharap, Greenomina dapat menjadi platform komersial berkelanjutan. Aplikasi ini membantu berbagai perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis carbon-neutral dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan lebih sehat.
Pada akhirnya, Greenomina tidak hanya memperkuat komitmen Pertamina terhadap target net zero emission 2060 Pemerintah Indonesia, tetapi menjadi penggerak perubahan sosial yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen, komunitas, dan generasi muda Indonesia.

