Tak Terpengaruh AS, Pemerintah Tegaskan Komitmen Capai NZE 2060
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat. Pemerintah tidak terpengaruh dengan langkah Amerika Serikat (AS) yang keluar dari Perjanjian Paris (Paris Agreement).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan, pihaknya terus mendorong pertumbuhan energi baru terbarukan (EBT) guna mewujudkan ketahanan energi nasional yang merupakan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
Dukung Komitmen NZE dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, OJK Terbitkan TKBI Versi 2
“Kami berusaha untuk selalu menghadirkan EBT guna mewujudkan ketahanan energi, seperti arahan dari Pak Menteri ESDM dan sesuai juga Keppres Nomor 1/2025 tentang Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi. Jadi kita tetap on the track untuk mencapai NZE pada tahun 2060,” kata Eniya di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Dia tidak memungkiri bahwa banyak pihak yang mempertanyakan soal langkah pemerintah ke depan dalam melakukan transisi energi. Sebab, keluarnya Amerika dari Paris Agreement dikhawatirkan akan menyebabkan proyek-proyek EBT yang tengah dikembangkan Indonesia menjadi ditinggalkan.
"Walaupun ada banyak hal tentunya di sektor internasional, semua mempertanyakan bagaimana Indonesia ke depan. Pak Menteri (Bahlil Lahadalia) sudah memberi arahan bahwa kita harus menabuh di gendang sendiri, kata beliau,” ucap Eniya.
Baca Juga
Pertamina Manfaatkan Proyek Carbon Market Untuk Kejar Target NZE
Sebelum ini, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebutkan, pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 100 gigawatt (GW). Dari jumlah itu, sebanyak 75% merupakan EBT.
Pengembangan EBT menjadi salah satu dari 20 proyek strategis yang diprioritaskan pemerintah untuk didorong oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
”Gelombang pertama investasi senilai US$ 20 miliar dalam kurang lebih 20 proyek strategis bernilai miliaran dolar akan difokuskan pada hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, pembangunan pusat data kecerdasan buatan, kilang minyak, pabrik petrokimia, produksi pangan dan protein, aquakultur, serta energi terbarukan,” ucap Presiden Prabowo Subianto.

