Gelar Sustainability Meet Up, Universitas Trisakti Bahas Pembiayaan Hijau di Sektor Sawit
JAKARTA, investortrust.id – Universitas Trisakti melalui Center for Entrepreneurship, Change and Third Sector (CECT) Sustainability menggelar Sustainability Meet Up #10 bertajuk Unlocking Sustainable Growth: Green Financing for Palm Oil Companies in Indonesia. Seminar ini membahas berbagai isu praktik keberlanjutan dan pembiayaan hijau di sektor sawit.
Acara yang digelar di Gedung Rektorat Lantai 12 Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (5/22/2024), itu dihadiri sedikitnya 100 peserta, terdiri atas perwakilan perusahaan, pejabat pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional, lembaga filantropi, manajer corporate social responsibility (CSR), akademisi, asosiasi, dan praktisi keberlanjutan.
Isu yang dibahas antara lain tentang terbatasnya dukungan pembiayaan hijau untuk investasi infrastruktur berkelanjutan, inovasi, serta proses yang dapat mengurangi risiko lingkungan dan sosial akibat produksi kelapa sawit. Seminar itu juga membahas komitmen pemerintah, lembaga keuangan, LSM, serta pelaku filantropi dalam mendukung petani kecil dan industri sawit melalui strategi pembiayaan hijau.
Baca Juga
Kemendag: EUDR Berdampak Negatif untuk Ekspor Sawit hingga Kopi RI
Rektor Universitas Trisakti, Prof Kadarsah Suryadi menyampaikan rasa bangganya terhadap berbagai lembaga keuangan dan perbankan, seperti UOB, yang menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan.
“Ini merupakan wujud kepedulian industri keuangan terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab,” ujar Prof Kadarsah saat membuka seminar tersebut.
Menurut Kadarsah Suryadi, inisiatif LSM internasional, seperti WWF dengan program Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) turut memperkuat ekosistem pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
“Dukungan ini pun diperkuat oleh peran lembaga filantropi yang memprakarsai berbagai inisiatif pembiayaan berkelanjutan,” tutur dia.
Peran pemerintah Indonesia dalam mengembangkan taksonomi hijau, kata Prof Kadarsah, mendapat respons positif, terutama dengan adanya rencana peluncuran taksonomi khusus untuk industri sawit pada awal tahun depan. “Itu akan menjadi landasan baru untuk standar keberlanjutan,” tandas dia.
Visi Indonesia Emas 2045
Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Setyo Budiantoro mengungkapkan,pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi bagian krusial menuju Visi Indonesia Emas 2045.
“Implementasi SDGs Indonesia saat ini mencapai 62,5% atau 139 indikator sudah tercapai (on track),” tutur Setyo Budiantorodalam seminar yang dipandu Deputi Direktur Transformasi Pasar (Indonesia) di Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Windrawan Inantha tersebut.
Salah satu tantangan utama dalam pencapaian SDGs, menurut Setyo, adalah masalah pendanaan. Total kebutuhan pencapaian SDGs Indonesia pada 2021-2030 atau pascapandemi sekitar Rp 122.000 triliun dengan kesenjangan pembiayaan (financing gap) mencapai Rp 24.000 triliun atau sekitar US$ 1,7 triliun.
Setyo Budiantoro menjelaskan, dalam konteks pengembangan industri sawit, inklusi petani kecil dalam skema pembiayaan berkelanjutan sangat penting untuk mendorong transformasi industri tersebut.
Baca Juga
Kemenperin: Magnitude dari Ekonomi Berbasis Kelapa Sawit Bisa Capai Rp 775 Triliun di 2024
“Diperlukan mobilisasi dan inovasi pendanaan, serta sinergi dalam pemanfaatan sumber daya keuangan untuk menutup kesenjangan pendanaan,” ucap dia.
Setyo menegaskan, transformasi industri sawit menuju keberlanjutan harus dilakukan secara inklusif. Petani kecil harus dipastikan mendapat dukungan keuangan yang memadai untuk beralih ke praktik pertanian berkelanjutan.
“Dashboard yang menghubungkan proyek SDGs dan investor juga penting untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan sosial. Integrasi dan sinergi berbagai sumber pendanaan diperlukan untuk memastikan pencapaian SDGs secara efektif dan tepat waktu,” papar dia.
Pembiayaan Bertanggung Jawab
Sementara itu, Chief Sustainability Officer UOB Indonesia, Jenny Hadikusuma mengemukakan, UOB memiliki kebijakan pembiayaan bertanggung jawab untuk industri sawit. “UOB berkomitmen terhadap praktik keberlanjutan dan perlindungan lingkungan di sektor agribisnis,” tegas dia.
Khusus kelapa sawit, menurut Jenny, komitmen UOB mencakup beberapa aspek utama, yaitu kewajiban bagi klien untuk memiliki sertifikasi, seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)atau Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), serta upaya pencegahan, pengawasan, dan pengendalian kebakaran.
“Aspek lainnya yaitu kebijakan dan prosedur mitigasi risiko lingkungan, kebijakan pengadaan berkelanjutan guna mencegah pembelian dari sumber yang merusak lingkungan dan sosial, serta perlindungan hak komunitas lokal melalui proses free, prior, and informed consent (FPIC),” papar dia.
UOB, kata Jenny Hadikusuma, juga berkomitmen melibatkan komunitas lokal dalam program peningkatan kapasitas pencegahan dan pengendalian kebakaran, serta kepatuhan penuh terhadap peraturan lingkungan, sosial, dan tata kelola setempat, termasuk aturan terkait lahan gambut.
Selain itu, UOB menawarkan berbagai solusi keuangan berkelanjutan, seperti green loans, sustainability-linked loans, green trade finance. “Melalui inisiatif ini, UOB berkomitmen mendukung perusahaan mencapai tujuan keberlanjutan melalui solusi keuangan yang fleksibel dan berdampak positif bagi lingkungan,” tutur dia.
98% Dibiayai Filantropi
Di sisi lain, Direktur Program Iklim dan Transformasi Pasar WWF Indonesia, Irfan Bakhtiar mengemukakan, peran lembaga keuangan sangat dibutuhkan untuk memperkuat pengembangan usaha pekebun sawit bersertifikat RSPO.
Berkolaborasi dengan lembaga keuangan, WWF Indonesia akan mengadopsi mekanisme sustainability-linked financing. “Targetnya antara lain transformasi kelompok pekebun bersertifikat menjadi UMKM yang kuat, berkembang, dan mampu mempertahankan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat bersertifikat RSPO,” ujar dia.
Irfan menjelaskan, biaya sertifikasi satu kelompok mencapai Rp 1 miliar dengan kegiatan mencakup kelembagaan petani swadaya dan pendampingan intensif. “Adapun pembiayaannya 98% dari filantropi, sedangkan 2% dipenuhi lewat skema komersial dan supply chain perusahaan,” kata dia.
Menurut Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Gusman Yahya, anggota Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) saat ini berjumlah sekitar 225 pihak, terdiri atas filantropi individu atau keluarga, perusahaan, independen, dan filantropi agama atau keyakinan.
Baca Juga
Buku ‘Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income-Trap’ Dirilis, Ini Pentingnya Sawit Bagi Indonesia
“Flantropi Indonesia fokus pada upaya membangun kapasitas dan kemitraan antarfilantropis untuk memperkuat ekosistem filantropi,” tutur dia.
Gusman Yahya mengungkapkan, peran filantropi dalam mendukung SDGs dan pendanaan hijau merujuk pada tipologi pelaku filantropi yang memiliki tiga kekuatan sumber daya, yaitu keuangan, manusia, dan teknikal yang dapat dimobilisasi dalam percepatan pencapaian SDGs melalui pendanaan hijau.
“Target PFI pada 2024-2027 adalah menjadi platform utama untuk memperkuat filantropi melalui ketahanan kelembagaan, peningkatan akuntabilitas, dan kolaborasi multi-stakeholder untuk SDGs dan pendanaan hijau,” papar dia.
Mata Kuliah Baru
Koordinator The Masudem Project Universitas Trisakti, Prof Asep Hermawan mengemukakan, Universitas Trisakti telah meluncurkan mata kuliah baru dalam Program Magister Manajemen (MM) Konsentrasi Sustainability yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan. “Kami bangga atas pencapaian mata kuliah baru ini,” tutur dia.
Asep Hermawan menjelaskan, mata kuliah tersebut merupakan bagian dari inisiatif Erasmus+ Masudem (Master Studies in Sustainable Development and Management), sebuah program kolaboratif yang didanai bersama oleh Uni Eropa.
Mata kuliah baru ini terdiri atas CSR dan Sustainable Development, ESG Investment and Reporting, Research Methods and Sustainable Development, serta Sustainable Leadership. “Salah satu isu yang akan dibahas dalam kurikulum ini adalah konteks dan praktik keberlanjutan di industri kelapa sawit di Indonesia,” ucap Prof Asep.
Prof Asep menuturkan, Sustainability Meet Up (SMU) merupakan program yang diinisiasi oleh CECT Sustainability Universitas Trisakti untuk membahas isu-isu keberlanjutan dan CSR di tingkat nasional dan global.
"Sejak diluncurkan pada 2018, SMU telah menjadi ajang berbagi pengetahuan bagi para praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor," kata dia.

