Menko Airlangga: Biofuel di Indonesia Terus Dikembangkan, Tak Hanya Berbasis CPO
NUSA DUA, investortrust.id – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan bahwa biofuel di Indonesia akan terus dikembangkan, berdasarkan aspek pendukungnya. Bahan bakar nabati ini tidak hanya dari produk minyak sawit atau CPO seperti biodiesel, Bioavtur, dan HVO, tetapi juga produk non-CPO seperti bioetanol.
Menko menegaskan, pengembangan ini dilakukan tidak hanya oleh perusahaan besar, tetapi juga melalui pemberdayaan berbasis masyarakat, yang tentunya dengan memenuhi spesifikasi konsumen, pemanfaatan produk samping biodiesel, dan pengembangan teknologi biofuel yang lebih canggih. “Indonesia juga telah menjajaki potensi sel bahan bakar hidrogen. Hidrogen merupakan teknologi yang menjanjikan, yang bisa digunakan tidak hanya untuk otomotif,” kata Menko Airlangga, saat mewakili Presiden Joko Widodo membuka acara The 41st Conference ASEAN Federation of Engineering Organization, yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Rabu (22/11/2023).
Baca Juga
Meski Turun, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terbaik Keempat di Dunia Kuartal III
Pengembangan bahan bakar nabati tersebut juga untuk memfasilitasi pembangunan berkelanjutan dan mendorong praktik ramah lingkungan. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun kawasan ASEAN.
Indonesia Selenggarakan AIPF
Guna meningkatkan kesejahteraan sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik, lanjut Airlangga, Indonesia juga menyelenggarakan ASEAN Indo-Pacific Forum (AIPF). AIPF memiliki serangkaian hasil nyata yang terdiri dari 93 proyek dengan nilai agregat sekitar US$ 38,2 miliar, yang dirancang untuk menyelaraskan dengan infrastruktur ramah lingkungan, rantai pasokan yang fleksibel, inovasi, pembiayaan berkelanjutan, serta transformasi digital.
“Perlu diketahui juga, upaya untuk mencapai perekonomian berkelanjutan juga terus dilakukan di tingkat nasional,” tandas Menko.
Menko Airlangga juga menjelaskan pentingnya pembangunan ekonomi berkelanjutan lantaran Asia Tenggara termasuk kawasan yang akan terdampak perubahan iklim secara tidak proporsional, dan berpotensi kehilangan hingga 30% produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2050 akibat perubahan iklim. Berdasarkan laporan Asian Development Bank, perubahan iklim juga berdampak negatif pada ketahanan pangan.
Baca Juga
Airlangga: Pebisnis APEC Perlu Percepat Transisi Energi dan Pembangunan Infrastruktur Hijau
Turut hadir dalam konferensi tersebut antara lain Presiden ke-5 Republik Indonesia, Perdana Menteri Serawak, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian, Ketua World Federation of Engineering Organizations, Ketua ASEAN Federation of Engineering Organisations, dan ribuan delegasi lainnya dari berbagai negara.

