Indonesia Berkontribusi 25% Investasi Hijau di ASEAN
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Investasi/BKPM memaparkan bahwa saat ini Indonesia berkontribusi sebanyak 25% dari total investasi hijau di kawasan ASEAN. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi, Nurul Ichwan menyebutkan, saat ini investasi hijau swasta di kawasan Asia Tenggara adalah US$ 6,3 juta. Indonesia sendiri menyumbang 25% dari jumlah tersebut, yakni sebesar US$ 1,6 juta dan tumbuh konsisten 28% year on year (yoy).
“Indonesia trennya terus tumbuh terkait dengan investasi hijau swasta di Asia Tenggara. Artinya ada keseriusan dari Indonesia untuk mengambil peran, memberikan kontribusi terhadap progres investasi hijau yang ada di Indonesia,” kata Nurul Ichwan dalam acara 2nd Conferences Road to PLN Investment Days 2024, Selasa (4/6/2024).
Indonesia sendiri memiliki lima langkah utama untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060. Pertama adalah dengan meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Baca Juga
COP28 Sepakati Pendanaan US$ 83 Miliar, Kadin: Peluang Peningkatan Investasi Hijau
Kemudian yang kedua adalah dengan pengurangan energi fosil yang meliputi dikenakannya pajak dan perdagangan karbon, co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Panas dengan EBT, serta memensiunkan PLTU batu bara.
“Lalu yang ketiga transisi ke kendaraan listrik (EV). Kemudian peningkatan penggunaan listrik dari EBT di rumah tangga dan industri. Dan terakhir adalah pemanfaatan carbon capture storage (CCS),” jelas Nurul.
Lebih lanjut Nurul Ichsan juga memaparkan progres Indonesia di berbagai sektor dalam upaya mewujudkan NZE ini. Di antaranya adalah komitmen pemerintah dalam NDC untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) 32-43% tahun 2030.
Baca Juga
PLN Gandeng Masdar UEA Perluas PLTS Terapung Cirata hingga Tiga Kali Lipat
“Pemerintah menargetkan 34% kontribusi energi terbarukan pada 2030 dan 20% kendaraan listrik dalam penjualan kendaraan baru pada 2025,” terang dia.
Selain itu, pemerintah juga akan memensiunkan dini PLTU Cirebon-1 sebesar 660 MW di bawah program Energy Transition Mechanism (ETM) dan Asia Development Bank (ADB). Serta peluncuran perdagangan karbon di sektor ketenagalistrikan pada 2023.

