Soal Transisi Bus Listrik di Perkotaan, Menhub: Harganya Dua Kali Lipat dari Bus Konvensional
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebut harga bus listrik mencapai dua kali lipat harga bus konvensional yang masih memakai bahan bakar minyak (BBM). Disparitas harga ini menjadi masalah dalam transisi dari bus konvensional ke bus listrik di perkotaan.
“Hal yang paling besar adalah disparitas harga yang namanya mobil listrik. Bus (listrik) itu 50% lebih mahal bahkan dua kali lipat (dari bus konvensional). Dari komponen (baterai) itu menjadi satu hal yang menjadi masalah,” kata Budi Karya dalam acara Sustainable E-Mobility Event: Sustainable Upscaling Public Transport Electrification Nationwide, Le Meridien Hotel, Jakarta, Selasa (21/5/2024).
Menhub menambahkan, melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 79 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Listrik, pihaknya telah berupaya mendorong transisi ini melalui skema Buy The Service (BTS).
“Kami mulai dengan BTS, buy the service, kesadaran untuk menggunakan bus di kota-kota Indonesia itu belum maksimal. Sehingga pemerintah (menganggarkan) lebih dari Rp 500 miliar untuk membuat BTS di 10 kota,” ungkap Budi Karya.
Baca Juga
Menhub Sebut 81 Bus Listrik Sudah Bersertifikat Registrasi Uji Tipe
Sebagai catatan, Skema Buy the Service (BTS) untuk angkutan massal perkotaan merupakan mekanisme pembelian layanan angkutan massal oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, kepada operator dengan mekanisme lelang berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) atau Quality Licensing yang memenuhi aspek kenyamanan, keamanan, keselamatan, keterjangkauan, kesetaraan serta memenuhi aspek kesehatan.
Adapun dua kota di luar Jakarta yang telah diuji coba menggunakan bus listrik sebagai transportasi publik. “Kita lakukan itu di dua kota yaitu di Bandung dan di Surabaya, di Bandung 8 bis dan di Surabaya 4 bus,” ungkap Budi Karya.
Budi Karya juga mengharapkan Pemerintah Daerah (Pemda) Bandung dan Surabaya akan melanjutkan proyek transportasi publik ini serta memberikan beberapa pilihan kepada pelaku usaha maupun non pelaku usaha.
“Saya pikir kalau mengenai anggaran kan enggak ada yang namanya anggaran itu cukup. Mulai dulu dengan angkutan massal perkotaan bus. Jadi melakukan insentif dan disinsentif bagi pelaku dan bukan pelaku. Melakukan law enforcement (penegakan hukum) bagi mereka-mereka yang tidak melakukan. Jadi pelan-pelan, kota-kota besar mestinya bisa melakukan itu,” sebut Budi Karya.
Baca Juga
XL Axiata Sediakan Layanan IoT dan Koneksi Tetap untuk Bus Listrik MAB
“Saya tentu berkeinginan ini berkelanjutan, tinggal bagaimana (Pemda) Surabaya dan Bandung menggunakan, meng-improve, dan memperbanyak jumlah (transportasi publik) itu,” sambung dia.
Sebelumnya, dalam ajang Busworld 2024, Direktur Komersial & Pengembangan Bisnis SAG Andre Jodjana menyatakan, disparitas harga bus listrik dan bus konvensional memang sangat jauh karena adanya komponen yang berbeda.
Ia menyebutkan, harga bus konvensional kurang lebih Rp 1 miliar, sedangkan bus listrik Golden Dragon (SAG) mencapai Rp 3 miliar untuk ukuran sedang dan Rp 5-6 miliar untuk ukuran besar.
“Kalau yang ini medium ini sekitar Rp 3 miliar. Kalau yang kecil itu sekitar Rp 2 miliar,” ujar Andre beberapa waktu lalu.

