Pertamina Jalankan Dual Growth Strategy, Bisnis Migas dan Energi Hijau Melaju Bersama
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina (Persero) menegaskan transisi energi Indonesia tidak dapat dilakukan dengan meninggalkan kebutuhan terhadap ketahanan dan keterjangkauan energi. Karena itu, Pertamina menjalankan dual growth strategy: mempertahankan dan memperkuat bisnis minyak dan gas bumi sebagai penopang ketahanan energi nasional, sembari secara agresif membangun portofolio bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
SVP Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Wenny Ipmawan mengatakan, strategi tersebut merupakan jawaban Pertamina terhadap energy trilemma yang saat ini dihadapi hampir seluruh negara, yakni bagaimana secara bersamaan menjaga energy security, energy affordability, dan energy sustainability. “Semua negara tentu mengalami energy trilemma ini,” kata Wenny saat menjadi panelis dalam Seminar Green Economy 2045 yang diadakan Investortrust, Selasa (29/09/2026).
Menurut Wenny, ketiga dimensi tersebut tidak dapat dipertentangkan satu dengan lainnya. Indonesia tetap membutuhkan energi yang tersedia dan andal untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Pada saat bersamaan, harga energi harus dapat dijangkau masyarakat dan dunia usaha, sementara sistem energi nasional secara bertahap harus bergerak menuju sumber energi yang semakin rendah karbon.
Persoalan tersebut, menurut dia, juga tercermin dalam agenda pembangunan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, antara lain melalui penguatan ketahanan energi, hilirisasi sumber daya alam, dan pengentasan kemiskinan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya juga akan memperkuat kemampuan masyarakat memperoleh energi dengan harga yang terjangkau.
Agenda tersebut berjalan beriringan dengan komitmen iklim Indonesia melalui Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) dan sasaran menuju NZE pada 2060 atau lebih cepat.
Wenny menegaskan, bagi Indonesia persoalannya bukan memilih antara pertumbuhan ekonomi atau keberlanjutan lingkungan. “They have to advance together,” ujarnya.
Baca Juga
Pertamina Terapkan Dual Growth Strategy untuk Dorong Ekonomi dan Dekarbonisasi Nasional
Dua Mesin Pertumbuhan Pertamina
Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan Pertamina melalui dual growth strategy. Strategi ini pada dasarnya menjalankan dua mesin pertumbuhan secara beriringan.
Mesin pertama adalah memaksimalkan dan semakin mengefisienkan legacy business, terutama minyak dan gas bumi, pengolahan, serta distribusi energi. Mesin kedua adalah membangun dan memperbesar low carbon business, mulai dari biofuel, panas bumi, tenaga surya, Sustainable Aviation Fuel (SAF), hidrogen hijau, hingga Carbon Capture and Storage (CCS) dan nature based solutions (NBS).
Menurut Wenny, transformasi tersebut harus berlangsung secara bertahap karena Pertamina tetap harus menjaga pertumbuhan perusahaan, kesehatan finansial, dan kemampuannya memasok kebutuhan energi nasional.
Peralihan secara mendadak dari bisnis konvensional menuju bisnis rendah karbon dapat berdampak terhadap pendapatan dan profitabilitas perusahaan. Padahal, kekuatan finansial dari bisnis eksisting juga diperlukan untuk membiayai transformasi energi yang membutuhkan investasi sangat besar.
Karena itulah, Pertamina tidak serta-merta meninggalkan minyak dan gas. Sebaliknya, produksi migas tetap ditingkatkan sembari bisnis energi rendah karbon dibangun hingga mencapai skala ekonomi.
Kejar Minyak 1 Juta Barel per Hari
Di sektor hulu, Pertamina tetap diarahkan mendukung target pemerintah mencapai produksi minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari pada 2030, serta produksi gas 12 miliar standar kaki kubik per hari.
Untuk mendukung sasaran tersebut, Wenny mengatakan Pertamina akan terus meningkatkan kegiatan pengeboran secara agresif, melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru, serta mengembangkan teknologi enhanced oil recovery (EOR) pada lapangan-lapangan yang telah berproduksi.
Lapangan seperti Rokan dan Mahakam menjadi bagian penting dari upaya menjaga sekaligus meningkatkan produksi migas nasional.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa dalam proses transisi energi, migas masih mempunyai peranan strategis bagi Indonesia. Terlebih, kebutuhan gas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka panjang.
Wenny merujuk arah Kebijakan Energi Nasional yang memperlihatkan gas masih mempunyai porsi sekitar 16% dalam bauran energi nasional pada 2060, sementara porsi minyak diproyeksikan turun menjadi sekitar 6%.
Artinya, peranan minyak memang akan semakin berkurang dalam jangka panjang, tetapi gas masih menjadi bagian penting dari sistem energi nasional, termasuk sebagai energi transisi.
Pertamina Perkuat Bisnis Hilir
Pertamina juga melakukan transformasi untuk memperkuat ketahanan bisnis hilir. Wenny menjelaskan, integrasi sejumlah subholding di lingkungan Pertamina menjadi Subholding Downstream merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan sektor hilir, meningkatkan kapasitas dan efisiensi kilang, serta meningkatkan nilai tambah dari produk yang dijual kepada masyarakat dan industri.
Ketahanan sektor hilir menjadi krusial karena transisi energi tidak hanya menyangkut jenis energi yang diproduksi, tetapi juga kemampuan Indonesia mengolah, mendistribusikan, dan menyediakan energi secara aman bagi masyarakat.
Pada saat bersamaan, Pertamina memperbesar portofolio low carbon business, yang sebagian besar pengembangannya dijalankan melalui Pertamina New & Renewable Energy (PNRE).
B50 Dipercepat, Kesiapan Feedstock Jadi Kunci
Salah satu agenda penting adalah memperbesar ekosistem biofuel. Wenny menyoroti percepatan implementasi biodiesel B50, yakni campuran 50% biodiesel berbasis nabati dengan 50% diesel.
Menurut dia, percepatan B50 membutuhkan pembangunan ekosistem secara menyeluruh. Persoalannya bukan hanya kemampuan Pertamina melakukan pencampuran dan menyediakan produk di hilir, tetapi juga kesiapan bahan baku di bagian hulu.
Karena itu, koordinasi lintas kementerian, lembaga, BUMN, dan perusahaan perkebunan menjadi sangat penting untuk memastikan ketersediaan feedstock nabati dalam jumlah memadai.
“Kalau kita bicara ekosistem, kita bicara juga dari mana feedstock-nya. Kita harus tersedia juga di hulu dari segi feedstock nabatinya,” ujar Wenny.
Dengan demikian, keberhasilan B50 bukan semata persoalan sektor energi. Kebijakan tersebut akan menghubungkan industri energi dengan perkebunan, industri pengolahan, logistik, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.
Baca Juga
Geothermal 727 MW, Didorong Menjadi 2 GW
Selain biofuel, panas bumi menjadi salah satu kekuatan utama Pertamina dalam pengembangan energi bersih. Wenny mengatakan Pertamina Geothermal Energy (PGE) saat ini mengoperasikan sendiri kapasitas sekitar 727 megawatt (MW). Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 2 GW pada 2038.
Indonesia mempunyai potensi panas bumi yang sangat besar. Karena sifatnya yang mampu menyediakan energi secara relatif stabil, geothermal juga mempunyai posisi berbeda dibandingkan sejumlah energi terbarukan lain yang produksinya bersifat intermiten. Namun, pengembangan geothermal membutuhkan dukungan regulasi, koordinasi kelembagaan, pembiayaan, dan kepastian offtaker.
Wenny mencontohkan pentingnya sinergi antara Pertamina dan PLN. PGE mengembangkan sumber panas bumi dan pembangkit, sementara listrik yang dihasilkan membutuhkan PLN sebagai offtaker untuk disalurkan ke sistem kelistrikan.
Karena itu, keberhasilan ekspansi geothermal membutuhkan kerja sama yang kuat antarlembaga dan antar-BUMN.
Transisi Besar Terjadi 2045–2060
Dalam Net Zero Emission Roadmap 2060 Pertamina, pergeseran besar dari portofolio berbasis minyak dan gas menuju energi baru dan terbarukan diperkirakan semakin masif pada periode 2045–2060. Namun, Wenny menegaskan pekerjaan menuju periode tersebut harus dimulai jauh sebelumnya.
Studi, pengembangan teknologi, proyek percontohan, pembangunan infrastruktur, hingga pembentukan pasar harus dilakukan sejak sekarang. Sejumlah teknologi bahkan sudah memasuki tahap komersialisasi.
Dengan kata lain, investasi yang dilakukan Pertamina pada dekade ini menjadi fondasi untuk “panen” bisnis energi rendah karbon pada periode 2045–2060. Transisi tersebut juga tidak berarti Pertamina dapat langsung meniadakan emisi. Selama perusahaan masih memproduksi, mengolah, dan menjual minyak dan gas, emisi karbon tetap muncul.
Karena itu, strategi NZE Pertamina terdiri atas dua pendekatan besar: dekarbonisasi bisnis eksisting serta pengembangan bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan.
Emisi Pertamina Diperkirakan Mencapai Puncak 2035
Wenny mengungkapkan, berdasarkan peta jalan NZE perusahaan, emisi Pertamina diproyeksikan mencapai titik puncak atau peak emission sekitar 2035.
Setelah periode tersebut, Pertamina harus semakin agresif menurunkan emisi melalui program dekarbonisasi sekaligus memperbesar kontribusi bisnis energi baru dan terbarukan.
Emisi yang masih dihasilkan dari kegiatan operasi harus dikurangi ataupun dikompensasikan melalui berbagai mekanisme, termasuk efisiensi energi, perubahan sumber energi, CCS, serta solusi berbasis alam atau nature-based solutions.
PNRE, menurut Wenny, telah menjajaki sejumlah lokasi untuk pengembangan bisnis NBS. Sementara itu, pada sektor hulu, Pertamina mulai mengembangkan CCS sebagai salah satu instrumen penting pengelolaan karbon.
Pertamina Kaji 11 Proyek CCS
Saat ini terdapat sekitar 11 studi proyek Carbon Capture and Storage yang tengah dijalankan Pertamina. Wenny berharap sebagian proyek tersebut dapat mulai memasuki tahap commissioning atau operasi pada dekade 2030-an.
CCS memungkinkan karbon dioksida dari kegiatan industri ditangkap dan kemudian disimpan pada formasi geologi tertentu sehingga tidak dilepaskan ke atmosfer. Dalam jangka panjang, CCS bukan hanya dapat digunakan untuk mengelola emisi Pertamina sendiri, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi bisnis penyimpanan karbon bagi perusahaan lain.
Indonesia bahkan berpotensi menjadi lokasi penyimpanan karbon yang berasal dari kegiatan industri negara lain apabila regulasi dan keekonomiannya mendukung. Namun Wenny menilai daya tarik bisnis karbon Indonesia saat ini masih perlu diperkuat.
Ia membandingkan nilai ekonomi karbon di Indonesia yang masih relatif rendah dengan sejumlah negara lain, di mana harga karbon dapat mencapai puluhan dolar AS per ton CO2.
Menurut dia, perbedaan tersebut berpengaruh terhadap keekonomian investasi CCS. Proyek penangkapan dan penyimpanan karbon membutuhkan investasi besar sehingga membutuhkan sinyal harga dan regulasi yang mampu menciptakan model bisnis yang layak.
Karena itu, dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan diperlukan agar CCS tidak semata menjadi instrumen pengurangan emisi, tetapi juga dapat berkembang menjadi industri baru.
68% Dekarbonisasi Pertamina Berasal dari Efisiensi Energi
Menariknya, sumber terbesar penurunan emisi Pertamina saat ini bukan berasal dari teknologi yang rumit, melainkan efisiensi energi. Wenny menyebut sekitar 68% dekarbonisasi yang dilakukan Pertamina berasal dari efisiensi energi.
Efisiensi menghasilkan manfaat ganda. Konsumsi energi dan biaya operasi perusahaan turun, sementara emisi yang dihasilkan juga berkurang.
Selain efisiensi, dekarbonisasi dilakukan melalui konversi bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih rendah karbon dan energi terbarukan serta berbagai perubahan teknologi dan proses produksi.
Pendekatan ini terutama diarahkan untuk mengurangi Scope 1 dan Scope 2 emissions. Scope 1 merupakan emisi langsung yang berasal dari kegiatan perusahaan, sedangkan Scope 2 berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang digunakan perusahaan.
Tantangan berikutnya adalah Scope 3, yakni emisi yang muncul sepanjang rantai nilai, termasuk ketika produk energi yang dijual Pertamina digunakan konsumen. Karena skala bisnis Pertamina sangat besar, pengurangan Scope 3 menjadi tantangan yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan transformasi pada jenis produk energi yang ditawarkan kepada pasar.
Dari E5 Menuju E20
Pada biofuel, Pertamina juga mengembangkan bioetanol. Saat ini pengembangan telah dimulai melalui bensin dengan campuran etanol E5. Dalam jangka panjang, kandungan etanol dapat ditingkatkan secara bertahap, termasuk menuju E20, bergantung pada kebijakan pemerintah, kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur, dan kendaraan. Pengembangan bioetanol berjalan paralel dengan peningkatan mandatori biodiesel menuju B50.
Bagi Pertamina, kedua program tersebut merupakan salah satu jalan paling cepat untuk menurunkan intensitas karbon bahan bakar transportasi karena dapat memanfaatkan sebagian infrastruktur energi yang sudah tersedia.
SAF dari Minyak Jelantah
Pertamina juga mulai masuk ke pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menjadi salah satu instrumen utama industri penerbangan global untuk mengurangi emisi.
Wenny mengatakan sejumlah negara maju telah mulai menerapkan kewajiban pencampuran SAF pada bahan bakar penerbangan. Indonesia juga diharapkan dapat bergerak menuju penerapan mandat SAF.
Pertamina sendiri telah memproduksi SAF dengan memanfaatkan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai salah satu bahan bakunya. Menurut Wenny, Pertamina pada 2026 telah memperoleh kontrak pasokan SAF sekitar 7.000 kiloliter dari Cathay Pacific.
Produksi dilakukan melalui proses pengolahan di kilang Pertamina dengan UCO sebagai feedstock. Minyak jelantah, menurut Wenny, berpotensi menjadi komoditas strategis dalam ekonomi energi baru karena dapat diproses menjadi berbagai produk rendah karbon, termasuk SAF maupun green gasoline.
Biorefinery 280.000 Kiloliter
Pertamina bahkan menyiapkan pembangunan biorefinery yang direncanakan beroperasi pada 2029. Fasilitas tersebut diproyeksikan mempunyai kapasitas sekitar 280.000 kiloliter per tahun, dengan UCO menjadi salah satu bahan baku untuk menghasilkan SAF dan produk biofuel lainnya.
Pembangunan fasilitas ini penting karena permintaan SAF global diperkirakan terus meningkat seiring semakin ketatnya target dekarbonisasi industri penerbangan.
Jika Indonesia mampu membangun rantai pasok UCO yang kuat, mulai dari pengumpulan minyak jelantah hingga pengolahan di kilang limbah rumah tangga dan industri makanan dapat memperoleh nilai ekonomi baru sekaligus menjadi sumber bahan bakar rendah karbon.
PLTS Pulau Sambu dan Efek Ekonomi Lokal
Pertamina juga memperluas portofolio pembangkit listrik tenaga surya. Melalui PNRE, perusahaan mengembangkan sejumlah proyek PLTS, termasuk proyek yang bekerja sama dengan PLN.
Salah satu proyek yang telah dikembangkan berada di Pulau Sambu, dengan kapasitas sekitar 1 MWp dan dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) 1 MWh. Wenny mengatakan pembangunan energi terbarukan di wilayah terpencil dapat menghasilkan dampak yang lebih luas daripada sekadar menyediakan listrik.
Ketersediaan energi dapat memicu tumbuhnya aktivitas ekonomi baru, termasuk sektor perikanan dan kegiatan nelayan. Karena itu, pembangunan energi terbarukan juga dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi daerah.
Selain PLTS, Pertamina terus mengembangkan bisnis gas-to-power sebagai bagian dari transformasi portofolio energi perusahaan.
Green Hydrogen Mulai Dipilotkan di Ulubelu
Teknologi lain yang mulai dipersiapkan adalah green hydrogen. Wenny mengakui keekonomian hidrogen hijau saat ini masih menjadi tantangan. Biaya energi yang dihasilkan masih relatif tinggi dibandingkan energi konvensional.
Namun Pertamina memilih mulai membangun kompetensi sejak sekarang karena hidrogen diperkirakan memainkan peranan penting dalam sistem energi rendah karbon masa depan.
Salah satu proyek percontohan dikembangkan di Ulubelu, Lampung. Dalam proyek tersebut, energi panas bumi dimanfaatkan untuk proses elektrolisis guna menghasilkan hidrogen rendah karbon.
Wenny mengatakan, proyek tersebut ditargetkan memasuki tahap pilot production sekitar November 2026, dengan kapasitas sekitar 100 kilogram hidrogen per hari.
Hidrogen yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi maupun proses industri, termasuk kemungkinan penggunaan pada kilang Pertamina.
Meski skalanya masih kecil, proyek Ulubelu menjadi bagian dari proses pembelajaran teknologi yang diperlukan sebelum hidrogen dapat dikembangkan pada skala komersial yang lebih besar.
Transisi Energi Harus Menjaga Pertumbuhan
Keseluruhan strategi tersebut memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi perusahaan energi seperti Pertamina dalam menghadapi transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Pada satu sisi, Indonesia membutuhkan lebih banyak energi untuk menopang industrialisasi, hilirisasi, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada sisi lain, sumber energi tersebut harus semakin rendah karbon agar Indonesia mampu memenuhi komitmen iklim dan mempertahankan daya saing produknya di tengah perubahan ekonomi global.
Karena itu, menurut Wenny, transisi energi tidak dapat dijalankan dengan pendekatan hitam putih mempertahankan energi fosil atau beralih seluruhnya ke energi terbarukan.
Pertamina memilih menjalankan keduanya secara paralel: memperkuat ketahanan energi hari ini sembari membangun sistem energi masa depan.
Minyak dan gas tetap diproduksi untuk menjaga energy security. Kilang dan infrastruktur hilir diperkuat untuk menjaga energy resiliency. Efisiensi energi digenjot untuk menekan biaya sekaligus emisi. Sementara itu, biofuel, geothermal, PLTS, SAF, CCS, NBS, dan green hydrogen dikembangkan untuk membangun mesin pertumbuhan baru yang semakin rendah karbon.
Dengan strategi tersebut, energy security, energy affordability, dan energy sustainability tidak ditempatkan sebagai tiga pilihan yang saling meniadakan.
Ketiganya justru harus bergerak bersama. “They have to advance together,” tegas Wenny.
