Pertamina Beberkan Strategi Transisi Energi: Targetkan Peak Emission 2035 dan Ekspansi Geothermal hingga 2 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) terus mematangkan langkah strategis dalam mendukung peta jalan Net Zero Emission (NZE) 2060. Senior Vice President (SVP) Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan mengungkapkan bahwa puncak emisi (peak emission) Pertamina diproyeksikan terjadi pada 2035, sebelum akhirnya melakukan dekarbonisasi secara masif menuju target emisi nol bersih.
Wenny menjelaskan bahwa transisi energi dari bisnis minyak dan gas (migas) menuju energi baru dan terbarukan (EBT) memerlukan proses yang matang. Periode saat ini hingga beberapa tahun ke depan diisi dengan berbagai studi, proyek percontohan (piloting), hingga komersialisasi skala terbatas.
"Akan mulai di tahun ini dan juga sudah mulai juga komersialisasi, dan akan mulai harvesting di tahun 2045 sampai 2060," ujar Wenny dalam acara Seminar Nasional Green Economy 2045 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Sungai Kapuas Surut, Pertamina Optimalkan Fasilitas Penyangga Tayan untuk Jaga Pasokan BBM
Sebagai bagian dari pilar transisi energi, anak usaha Pertamina di sektor panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), saat ini mengoperasikan kapasitas mandiri sebesar 727 Megawatt (MW). Pertamina menargetkan kapasitas tersebut naik menjadi 1 Gigawatt (GW) pada 2028 dan mencapai 2 GW pada 2038.
Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan PT PLN (Persero) sebagai penyerap utama (offtaker) listrik yang dihasilkan. Dukungan regulasi, advokasi, dan koordinasi antar-lembaga serta sesama BUMN menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan pasca-produksi uap dan listrik dari pembangkit Pertamina.
Mengingat bisnis utama (legacy business) di sektor migas secara alamiah menghasilkan emisi dalam jumlah besar, Pertamina tidak hanya berfokus pada efisiensi operasional, melainkan juga pengembangan portofolio bisnis berkarbon rendah.
Pasca-puncak emisi 2035, Pertamina akan mengompensasi emisi yang dihasilkan melalui dua skenario utama. Pertama, solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NBS), yaitu Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) telah mulai menjajaki beberapa lokasi potensi proyek NBS untuk menyerap emisi karbon.
Kedua, penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS). Di sektor hulu, Pertamina tengah menjalankan 11 studi terkait teknologi CCS. Proyek CCS ini ditargetkan mulai beroperasi (commissioning) pada dekade 2030-an untuk menangkap emisi CO2, baik dari internal Pertamina maupun fasilitas industri lainnya.
Baca Juga
Pertamina Blokir 10 Ribu Barcode BBM Subsidi Bermasalah di Papua
Wenny menegaskan bahwa keberhasilan seluruh agenda transisi energi dan bisnis karbon rendah ini sangat bergantung pada kepastian regulasi, serta kebijakan pemerintah yang mendukung percepatan Kebijakan Energi Nasional.
"Dan itu nantinya mungkin di 2030-an ke atas mudah-mudahan sudah ada yang kemudian commissioning dan bisa meng-capture CO2. Baik ini sebagai CO2 yang dihasilkan oleh Pertamina maupun bisnis lain begitu yang nanti saya pikir, nanti ini memang depend on regulation sama policy ya," jelas Wenny.
