Dolar Menguat, Emas Kehilangan Daya Tarik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada perdagangan Senin (13/4/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya pembicaraan antara AS dan Iran pada akhir pekan, yang memicu kekhawatiran inflasi serta mengaburkan prospek penurunan suku bunga global.
Pada awal sesi, harga emas turun 0,4% menjadi US$ 4.728,59 atau sekitar Rp 75,66 juta per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak 7 April dalam sesi yang sama. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga terkoreksi 0,7% ke level US$ 4.752,20.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Tipis, Dolar Melemah Seusai Gencatan AS-Iran
Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan global. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kepala Ahli Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi perkembangan berita, khususnya terkait energi. Ia menegaskan bahwa perhatian utama pelaku pasar tertuju pada harga minyak mentah karena dampaknya yang langsung terhadap inflasi dan kebijakan moneter bank sentral.
Ketegangan meningkat setelah militer AS memulai blokade terhadap kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran. Pemerintah Iran merespons dengan ancaman terhadap pelabuhan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Situasi ini terjadi setelah pembicaraan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik, sehingga peluang gencatan senjata semakin menipis.
Lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$ 100 per barel memperbesar tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi ini mempersempit ruang bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Meski demikian, emas tetap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang.
Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga AS pada akhir tahun hanya sekitar 21%, turun signifikan dari sekitar 40% sebulan sebelumnya.
Baca Juga
Indonesia Punya ‘Natural Hedge’, Krisis Harga Minyak Jadi Peluang Emas
Ahli Strategi Pasar Sprott Asset Management Paul Wong menyebut bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, dinamika pasar bisa berubah. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi meningkatkan peran emas sebagai aset penyelesaian lintas batas yang tepercaya, terutama ketika sistem pembayaran global terganggu dan mata uang mengalami pembatasan.
Di sisi lain, ketidakpastian pasokan energi juga diperkirakan akan mendorong permintaan perak secara struktural, terutama melalui percepatan investasi pada energi surya berbasis fotovoltaik.
Sejalan dengan tekanan di pasar logam mulia, harga perak turun 2,4% menjadi US$ 74,07 per ons. Platinum juga melemah 1,2% ke posisi US$ 2.021,28, sementara paladium justru naik tipis 0,4% menjadi US$ 1.527,45.

